Menyeberang

Setiap pagi dan petang, mulutnya basah oleh doa yang sama:

‘Ya Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, dan membodohi atau dibodohi.’

Berdoa adalah rutinitas yang dia pikir tidak akan lekang sampai kapan pun, oleh apa pun. Sebab, dia yang paling tahu betapa teguh langkahnya menyusuri koridor yang dia lewati. Mentari hanya datang dan pulang, jika dirinya telah berlutut dengan kaki telanjang, merapalkan permohonan yang berkali-kali diulang.

Setiap kali berdoa, ayahnya selalu menatapnya bangga. Pujian ibunya ikut menyertai, untuk merdunya doa-doa yang dilafalkan oleh lisannya juara.

Kemudian gempa datang dan menjungkirbalikkan hidupnya. Jarum jam berputar lebih lekas. Lembar kalender bertukar lebih gegas.

Cukup dua tahun; waktu yang diperlukan untuk menyulapnya menjadi seseorang yang berbeda. Cukup dua kematian; perenggut kedamaian yang memindahkannya ke sisi yang dahulu dia pikir nista.

Saat tengah beraksi mengancam seorang asing demi uang makan malam, topeng yang dia kenakan pun hilang gunanya.

Sebab dia bertemu dengan dirinya dua tahun yang lalu. Berbalut jubah suci yang kini rasanya penuh tahi.

Percakapan mereka berlangsung lewat udara.

“Mengapa kau jadi seperti ini? Aku ini makhluk cerdas dan patuh. Kau menjadi bukan diriku. Di mana doa-doaku dahulu kau lemparkan?”

“Di mana doa-doamu dahulu dilemparkan? Ya. Di mana? Aku juga bertanya-tanya. Barangkali penerima doamu sudah mencampakkannya ke kotak sampah, atau justru doa itu tak sampai ke tempat yang dituju.”

“Ngaco. Aku ini penghuni biara dan surga. Bukan penjara dan neraka.”

Dia tertawa miris. Menjawab pernyataan sinis itu sambil meringis.

“Tahu sesuatu? Biara atau penjara sama saja. Manusia-manusia dikurung dan dikarantina. Diberi makan dan disuruh bekerja. Sudah seperti binatang ternak yang dipiara dan dikuras tenaga, daging, dan susunya.”

“Jelas berbeda. Biara adalah jalur sunyi menuju Tuhan. Penjara adalah jalur hukuman bagi mereka yang tolol dan tersesat menuju jalan Setan.”

“Ataukah biara adalah penjara yang disuci-sucikan? Bagiku, hidup ini lucu. Ketika aku berada di tempatmu, kulihat betapa tololnya dunia seberang. Namun, begitu kakiku melintasi penyeberangan, segalanya berbalik; duniamu lah yang tolol. Jadi, apa itu ketololan dan yang bukan ketololan?”

“Kau benar-benar sudah tolol. Tersesat. Laknat.”

“Ya, kau bisa saja benar. Tapi kau juga bisa saja si tolol itu sendiri.”

Entah malam turun lebih cepat, atau kesadarannyalah yang sudah mendesak. Wajah-wajah dan koridor itu menggelap, mengisapnya ke dalam labirin lelap.

Ketika matanya kembali terbuka, ia dapati dirinya berlutut di hadapan altar, mengenakan jubah putihnya, dengan tangan terlipat di depan dada. Ayahnya di sisi kanan, menatapnya bangga. Ibunya di sisi kiri, berkali-kali memuja suaranya sewaktu melantunkan doa.

Aneh. Dia merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk berkepanjangan. Mimpi tentang masa depannya yang tersesat dan bergumul dosa.

Rasa takut tiba-tiba saja datang dan membuatnya menggigil sepanjang hari. Takut tersesat. Takut menjadi manusia tolol. Ketakutan yang membuatnya berdoa lebih lama. Membuat lisannya lebih sering basah oleh doa yang sama:

‘Ya Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, dan membodohi atau dibodohi.’

Siang dan petang akan diantarkannya dengan sembahyang. Merapalkan doa itu adalah rutinitas yang dia harap tidak akan lekang sampai kapan pun, oleh apa pun.

Tinggalkan komentar