Air Mata

Matahari itu telah mati. Padam oleh hujan debu yang turun lagi.

Manusia-manusia yang melata di muka bumi pun ikut mati. Sebab kota-kota segar kini meranggas dan lapar. Gedung merampas sumber mata air, menyulapnya jadi uap yang menebar pandir. Dunia dikuasai huru-hara metropolitan, di mana-mana isinya setan. Wujudnya memang serupa manusia, tapi hatinya telah terbuang sia-sia.

Setan berwujud manusia tak mau berhenti berkreasi. Lama-lama ingin merambah penyamaran lain. Beberapa tahun belakangan, mereka usung siasat jadi burung. Sebab di antara ribuan spesies yang menghuni rongga biru ini, burung-burung adalah makhluk yang paling tahan banting. Jauh dari tanah, jauh dari tengadah yang membuat leher lelah.

Burung-burung imitasi punya paruh sakti. Sekali berciut, tetangganya sakit, lalu mati. Cakarnya yang maharakus giat mencari-cari, menggali-gali luput saudaranya di tanah sendiri. Mereka menganyam sangkar rendah dari mayat-mayat manusia asli.

Sementara itu, burung-burung asli justru minggat mencari bala bantuan. Meski tenaga sudah hampir habis, mereka paksa sayap-sayap yang basah oleh darah yang dicurah itu terus mengepak di udara, mencari cara jitu untuk mengembalikan matahari. Duka global ini lama sekali. Luka global ini sakit sekali. Distopia yang entah kapan jumpa pada mati.

Sampai suatu ketika, sesosok burung asli menyadari sesuatu. Mungkin matahari bisa kembali muncul jika debu ini sirna. Mungkin debu ini bisa sirna oleh curahan hujan dari angkasa. Mungkin hujan pun bisa sekalian mencuci bumi; melunturkan dosa dari manusia dan burung palsu di sana.

Maka, mereka curah air dari telaga yang tersisa, yang tertanam di kedua rongga matanya. Di saat burung imitasi dari setan menolak menengadah, burung-burung asli justru meneropong angkasa yang buram, siang juga malam. Sebab mereka tahu, di atas sana masih ada yang lebih tinggi posisinya.

Satu tetes … Dua tetes … air mata jatuh ke tanah tandus. Separuh mengendap, separuh menguap, sisanya mengembun. Menciptakan gumpal kelabu di kubah raksasa.

Burung-burung imitasi mulai panik. Terlebih ketika curahan air makin banyak, makin semarak. Paruh dan cakar mereka luntur sudah. Sumber mata air memulihkan tanahnya, sebab gedung-gedung hanyut terbawa arus. Manusia-manusia yang mati pun hidup lagi usai mendapatkan seteguk kehidupan.

Lalu, matahari kembali.

Di angkasa, burung-burung asli yang sudah memulihkan tenaga dengan minum air langit pun bersorak girang. Sebab kini mereka tahu, air mata bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang terpendam; pelebur untuk setiap sakit yang mendekam.

Tinggalkan komentar