Seperti biasanya, ia tengah memandikan harapannya saat engkau tiba. Wajahnya rekah, semerah dan semeriah asa yang diurusinya.
Semakin rekahlah ia saat kau ikut mendekat dan menabur pupuk ke atas harapannya.
“Trims. Aku benar-benar menyayangimu. Tapi, kok perasaan pupuknya makin sedikit, ya?” katanya.
Dia tak tahu, ‘kan, pupuk itu bahan bakunya adalah kepercayaanmu yang kian lama kian menyusut? Sebab, kesempatan yang kauberikan memang sudah terlalu lama, tetapi dia terus saja meminta penangguhan waktu dengan seribu satu alasan yang tak diterima logika. Katanya, dia punya sepot harapan baru. Katanya, harapannya yang satu layu dan perlu dirayu. Katanya, begini lalu begitu. Hingga asa yang harusnya kalian bina pun makin tersingkir, lantas tersungkur dari panggung ke pinggir kamarmu.
“Kalau yang ini sudah tumbuh, lalu yang sebelah sudah sembuh, bisa kita lekas tempuh punya kita, ‘kan?” tanyamu.
Dia terkekeh sumbang. Sumbang yang sambung-menyambung sampai rasanya sumbing. “Lihat nanti, ya. Kamu tunggu saja.”
Tunggu dulu. Tunggu? Mengapa dirimu harus selalu menunggu sampai jemu? Seolah bom waktu yang kaukandung bisa selalu dikandangi tanpa ada yang tahu-menahu.
Lagi-lagi, beberapa cangkir kebohongan dia suguhkan kala kalian duduk bersama di hadapan tarian api unggun. Isinya manis di permukaan, tapi pahitnya mengendap jauh ke dasar cangkir dan menembus hatimu. Lucunya, kalian nikmati itu sambil tertawa—tawanya girang, tawamu gerung, tapi suaranya sama-sama garang. Bersama, kalian saksikan kayu dihabisi api, tapi yang kaulihat justru hatimu yang mulai dihabisi ambisi-ambisi.
Kau berpura-pura tak tenggelam dalam linang air mata. Ketika ketahuan, kaulempar semua tuduhan pada asap. Padahal asap adalah sebaik-baiknya tokoh baik di sana. Dengan tangannya yang meruap-ruap, ia usap tangismu sampai lesap.
Ketika kau pulang, seisi rumah menyambut tak ramah. Kalender di lemari menyambitkan batas yang tinggal dua bulan. Jam dinding meributkan bilangan masa yang terisi sia-sia belaka, juga kesempatan yang kian menipis perlahan-lahan. Ranjang pun ikut menerjang dengan ancaman untuk membuatmu terjaga sepanjang malam.
Bahkan kucingmu, satu-satunya yang kaupikir akan bermurah hati, kini ikutan marah.
“Meong,” Bego, katanya. Dia bilang kau sudah tak waras karena masih sudi diperas.
Ya, dia memang sialan, balasmu.
“Meong, meong, meong,” Kalian berdua sama-sama sialan, sahutnya.
Ya, aku pun sial. Sial. Sial. Sialan.
Kau ambruk dengan tangisan yang tak mampu diredam.
Di tepi ruang nan lengang itu, satu-satunya harapan yang kaupelihara layu dan berguguran, disantap angin penyesalan. Kini tiada asap yang mengusap-usap air matamu. Adanya cuma omelan penghuni kamar yang takkan habis sebelum kau jadi abu.
