[Babak Satu]
Kemarin, peranku adalah menjadi selimutmu. Kita bersanding di pembaringan, tak terpisahkan. Bersatu melawan angin serta dingin. Saling menebar dan ditebar kehangatan dalam dekap dekatmu. Kita berkawan meracik secarik jampi-jampi, demi menarik dan menawan malam dalam alam mimpi.
Usai mimpi kausarungkan, peran lamaku kaularungkan. Matamu terkatup, tirai merah tertutup.
[Babak Dua]
Sekarang, peranku berganti. Aku menjadi buku yang kau tamatkan tepat setelah judul kausematkan. Barangkali aku tak lagi sebegitu pantas diberi kasih ataupun kisah. Namun, tidak apa. Segera kucumbu kiamat, menemui ajal usai sekarat di huruf keempat.
Simpul kita tampaknya terlalu usang, hingga kau pantang memasang sampulku. Bajuku hanya debu. Debu abu yang bahkan lebih tebal daripada kisah kita. Jadilah, halamanku yang lembab; mataku sembab. Kau biarkan aku teronggok menggigil dan menguning di rak paling sudut.
Aku masih berharap matamu memejam dan babak ini padam, hingga aku bisa lekas ganti peran. Begitulah seterusnya. Begitulah seharusnya. Alih-alih, sampai malam hendak hengkang, kau malah kian nyalang. Memandang paket-paket buku baru yang datang. Mencumbui mereka penuh sayang. Tidakkah kau dengar aku menjerit malang?
Sepertinya tidak.
Malam sudah terlalu larut untukku berganti peran. Kau sudah terlalu hanyut untuk menutup tirai. Mungkin inilah akhir diorama ini. Hidup kita hanya kemarin dan hari ini. Tak ada esok, tak ada nanti.
Namun, aku masih berharap kau dengar denyarku; dalam gelap kamar, ada yang rindunya eksplisit menembus batas, melebihi kapasitas, membumbung tinggi hingga atas, lalu lenyap tak berbekas.
(Ketika akhirnya kaututup tirai itu, aku sudah menjelma abu)
