1. Pesta Ganjil
langit dan malam yang murka
hanya pantulan semata
dari hati tuan yang sudah muak bersabda
gerimis tua
dan gurihnya guruh sangkakala
juga gejala ganjil dalam kelana
ialah pengusir kata dan kita—
kutu-kutu dan kupu-kupu
yang terkatung di kota
apa pula itu bianglala?
hei, coba lihat ke sana
mentari sedang senang dipenjara
kegirangan berpesta bersama semesta
merayakan garangnya duka
yang berjatuhan ke rumah, ke jubah, ke tanah
kata-katanya rampus
katanya, “mampus”
jadi, di mana orang menjual kaca?
aku ingin beli sejuta
biar kakiku kakimu kaki kita
berhenti menggali-gali dusta lewat kata-kata
sebab, hujan selalu rebas dari atas ke bawah
sebelum lari
untuk mati
2. Sudah Sinting
langit dan malam yang murka
mempertemukanku lagi pada buta
semacam serdak tiga babak dalam satu masa
satu; kita bertolak dari gulita
dua; kita meniup pelita-pelita
tiga; kita kekal menjelma yang amerta
terang itu hilang, tenang itu bumerang
sejak bejana jelaga kembali
menumpahkan isinya
yang berupa secarik jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan gila
seperti: mengappa diorama ini tercipta?
sebab kadang,
ketidaktahuan justru menyelamatkan
sedang rasa penasaran membunuh seekor kucing malang
hanya menyelipkan diri dalam lapis-lapis ketidakpuasan
kita adalah gundu di tengah pusaran
ikuti arus dan jumpalah pada pemberhentian
kelak, bila bilangan renta telah tiba
akal mungkin sudah diobrak abrik
terbolak-balik
mungkin semesta sudah kelewat pongah
