Nama desamu adalah Desa Lara. Tempat berpusatnya duka dari seluruh penjuru dunia.
Lembahnya adalah lokasi orang berkubang selagi mengais kesia-siaan. Gunungnya tempat kalian meratap kepada gemintang yang berjatuhan. Lautannya muara dari setiap tetes darah dan air mata. Aroma busuk dan menjijikkan menginvasi udara; didominasi embus napas keputusasaan yang nantinya dihirup kembali, lalu diembuskan lagi. Terus begitu sampai waktu yang belum terdeteksi.
Hampir semua orang memeluk penyakit mereka masing-masing. Kalian tak pernah mengenal apa itu bahagia, selain mitos belaka. Hanya ada dua fase dalam kehidupan ini: kalau tidak biasa-biasa, maka nelangsalah yang menjadi penguasa. Begitu ada selengkung senyum, semenit kemudian bibir itu akan dibuat mengerut kembali. Warga percaya, andaikata kebahagiaan itu ada, mestinya semua memperolehnya tanpa kecuali. Prinsip kesamarataan dijunjung tinggi, sekalipun itu setara dalam kehinaan.
Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di desa itu, kau dan dirinya telah lama resah. Kalian adalah dua dari sedikit manusia yang masih menerima nikmat sehat—setidaknya penyakit duka yang menggerogoti kalian belum mencapai stadium parah. Terpujilah hidup kalian yang masih terbilang muda.
Ide untuk memberikan perubahan sudah lama kalian obrolkan. Namun, untuk menggali ide dan mewujudkannya, tentu tak semudah yang kalian wacanakan. Selalu dan selalu kalian temui jalan buntu dalam setiap pembahasan.
Malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Suara ratapan dan tangisan dari rumah-rumah tetangga terdengar kencang memusingkan kepala, selagi kalian berdua berbaring di atas ranjang yang baru saja kering oleh air mata.
Tiba-tiba, ia membalikkan tubuhnya ke arahmu.
“Aku punya ide.” Ada tekad berkumpar dalam gurat muka itu, tapi masih bisa kaulihat kegelisahan dalam kelam bola matanya.
Tanpa perlu bertanya lebih lanjut ide apa yang dimaksud, kautahu arah pembicaraan ini. Ini topik yang hampir saban malam menjadi bahan perbincangan kalian, tapi selalu berakhir dalam kebuntuan solusi. Yang ia ungkit jelas gagasan untuk membawa Desa Lara menyongsong perbaikan.
“Ide seperti apa?”
“Aku akan meminta bantuan kepada Dewa Taruhan.”
Selama sekian detik, kau tercengang. Ini ide paling sinting yang pernah kaudengar tersembur dari lisannya. Matamu nyalang menatapnya. Jelas saja kau membantah, “Jangan gila!”
Selengkung senyum terbit pada wajah di hadapanmu. Merekah perlahan seperti kelopak mawar yang tahu persis detik di mana ia harus membuka. Telapak tanganmu dalam kuasanya ia genggam begitu erat. “Percayalah padaku.”
“Tidak!” Kau menggeleng keras. “Kau tahu konsekuensi apa yang akan kita terima bila memohon padanya!”
Kedua iris sekelam malam menatapmu begitu lekat. Meringkus atensimu seolah tak memberimu objek lain untuk kautatap, selain keyakinan yang mendadak mengental di dalam sana. Sebelah tangannya yang bebas mengelus kepalamu. “Aku belajar bahwa untuk maju selangkah, kita perlu mengambil risiko. Bila kita terus-terusan menolak, kita akan tetap berlari di tempat yang sama.”
Kau membisu. Kehilangan bantahan. Kaupalingkan matamu ke dinding berlumut duka, ke langit-langit yang dihinggapi jamur nestapa, ke mana pun asal bukan matanya.
Namun, jemarinya sigap membawamu kembali padanya, menuntut kalian bersitatap. “Anggaplah ini kado ulang tahun untukmu.”
Dilema menghinggapi jiwamu. Tiga hari lagi ulang tahunmu yang kedua puluh akan datang. Kau juga ingin perubahan itu, tapi kautahu Dewi Taruhan bukanlah sosok baik hati yang akan membantu cuma-cuma.
“Tapi …” tuturmu ragu, “bagaimana kalau kau lenyap?”
Ia menggeleng, semantap jemarinya pada jemarimu yang saling berkait. “Lenyapnya diriku masih kemungkinan. Tapi perubahan adalah kepastian.”
Kau ingin berkata-kata lagi, tapi bantahanmu habis sudah. Selalu ada momen dalam setiap perdebatan, di mana seseorang akhirnya luluh, begitu sadar, yang dikatakan oleh lawan bicaranya benar. Itulah momen yang saat ini kaualami.
Pada akhirnya, kau menerimanya.
“Ini kado ulang tahunku,” bisikmu.
Ia membalas, “Kado ulang tahunmu.”
Maka, ketika fajar menjemput, kauantarkan ia berlalu dari mulut pintu. Ini adalah momen pertama di mana ia menghadapkan punggungnya padamu. Di tangannya tidak ada apa pun. Yang dibawanya hanya niat mulia dan rasa percayamu.
Ia akan kembali membawa kado ulang tahunmu berwujud perubahan yang selama ini kalian idamkan. Itu janjinya.
┍━━━━━━━☆☆☆━━━━━━━┑
Dua hari telah berlalu dan ulang tahunmu akan datang besok. Namun, dia belum juga kembali, apalagi membawa apa pun yang sudah ia perjanjikan.
Berhari-hari bergumul dalam keresahan, otakmu nyaris hilang kewarasan. Semakin waktu memacu, semakin luntur akal sehatmu. Rintihan dan lirihan dari para tetangga terdengar lebih menyayat daripada sebelumnya. Udara terasa lebih keruh dan busuk daripada semestinya.
Pada malam di mana kaurasa dirimu sejenak lagi jadi gila, sebuah ketukan samar mendarat di pintu. Bergegaslah kau membukanya, berharap menemui kabar bahagia.
Akan tetapi, hanya ada kotak yang tiba di depan pintu. Hanya kotak semata, tanpa kehadirannya.
Tangismu pecah. Jawabannya datang, tapi tak seberkas pun bahagia menyelip dalam dadamu.
Ada sebersit konklusi yang kautarik dari sini, sebab kautahu benar, Dewi Taruhan bukan tipikal baik hati. Kemunculan kotak itu adalah pertanda bahwa ia sudah direnggut pergi dan takkan datang lagi.
Mendadak kau benci. Di matamu, kotak itu tiada bedanya dengan kotak Pandora yang berisi bencana. Tak sudi kausentuh kotak itu. Berharap bisa beroleh kesempatan, demi menukar kembali benda itu dengan kemunculan dia.
Sehari berlalu. Tiada tawaran untuk menukar kotak.
Tiga hari pun lewat. Status quo.
Sepekan. Penantiammu sia-sia.
Diselubungi kesepian di tengah hiruk-pikuk manusia yang hanya bisa merintih dan mengaduh saja, kaurenungkan segala yang terjadi. Lalu, kau pun sadar: dia takkan pulang. Eksistensinya di dunia telah ditukar dengan kotak berisikan entah apa.
Tak tahan, kaubuka kotak itu.
Detik itu pula kautahu, kau keliru. Tiada bencana yang turun ke bumi. Hanya ada huruf-huruf— simbol-simbol yang bisa kautahu bisa diubah jadi apa.
Di penghujung senja, kala langit memar oleh jingga berkabut yang akan mengantarkan kalian menuju temaram yang menyesakkan, kausulam huruf-huruf jadi sebentuk pesawat dan perahu kata. Sebagian terbang, sisanya berlayar. Membawa semua kesedihan, kesengsaraan, dan kesia-siaan pergi meninggalkan desa.
┍━━━━━━━☆☆☆━━━━━━━┑┍━━━━━━━☆☆☆━━━━━━━┑
Nama desamu kini berganti jadi Desa Aksara. Tempat berpusatnya ilmu pengetahuan dan kebahagiaan. Wangi kepandaian menyeruaki udara. Lautannya menampakkan kejernihan dan memantulkan kecerdasan. Punggung bukit kini menjadi lokasi kalian bertukar cerita cinta. Tiada lagi rintih dan jerit nelangsa. Semua berganti jadi sukacita. Orang-orang bekerja, mengubah huruf menjadi sesuatu yang bermakna.
Kau mendongak, menatap kubah biru yang tak lagi diselimuti halimun pekat. Ada bayangannya di angkasa, tersenyum cerah, menularkan hal yang sama pada bibir dan gurat wajahmu. Kau harus mengakui bahwa dirinya benar. Semua kemajuan memerlukan keberanian. Dan semua perubahan membutuhkan pengorbanan.
