Aksa

[ #1Week1Fiction1Genre • Minggu 1 • Aksa • 0(Ma-H) Celestilla ]

Jumlah Kata: 513

MULANYA, KARTU KELUARGAKU menyertakan tiga personil. Namun, sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.

Aku dengan kekasihku. Sedang Ayah dengan botol-botol alkoholnya.

Bukan salahku. Ayah yang duluan menyelingkuhi Ibu bahkan sebelum empat puluh hari kendaraan wanita itu ditenggelamkan di galian bumi. Setiap malam, ia dan kekasih barunya berkencan, membuatku jijik dan muak sekaligus. Aku diabaikannya seperti seembus angin tak berwujud.

Maka aku pun turut beringsut mencari kesibukan baru. Terciptalah jarak juga dinding antara kami berdua.

Bertahun-tahun kondisi ini bertahan. Bahkan saat kelulusanku dari universitas, hingga hari pernikahanku, Ayah masih palingkan muka, sibuk mengurusi kekasih barunya ketimbang hari bahagia putranya.

Melihat kerenggangan keluargaku, suatu hari, istriku mengajakku bicara empat mata.

“Kenapa nggak ngajak Ayah ngobrol duluan?”

Dengkusanku terbit lebih cepat dibanding yang kusangka. “Moh.”

Geli menyadari dia menyebut orang itu dengan panggilan ‘Ayah’. Aku sendiri pun sudah menganggap ‘Ayah’ sebagai sebuah nama sandang asing, alih-alih sebuah status atau hubungan kekerabatan.

“Kamu juga akan jadi seorang ayah,” kata istriku lagi, muram. “Andai aku pergi, lalu meninggalkan kalian berdua dalam kondisi seperti itu, aku akan sedih.”

Aku tercengang. “Hei, jangan ngomong yang tidak-tidak …”

Istriku memang sedang hamil dua bulan. Menyaksikan dia muntah-muntah setiap pagi saja aku cemas separuh mati. Memikirkan hidupku tanpanya sama seperti memikirkan kiamat. Bagaimanapun, dia keluargaku satu-satunya saat ini.

Tanpa melihat keenggananku, lisannya kembali berkata sendu, “Kamu takut kehilanganku, ‘kan? Tapi, Ayah sudah menghadapinya. Harus ada salah satu dari kalian yang menekan ego itu …”

Tanpa sadar, suaraku mulai meninggi. “Kenapa aku? Dia yang memutuskan hubungan kami duluan! Dia yang tidak pernah ada untukku dan setiap sudut penting hidupku! Bukan cuma dia yang kehilangan, tapi aku juga!”

“Kalau ayahmu kehilangan ibumu, ayahmu duda. Kalau ibumu yang kehilangan ayahmu, ibumu janda. Kalau kamu kehilangan ayah dan ibumu, kamu yatim piatu. Mungkin, bagi kamu, kamu sekarang yatim piatu. Tapi …” Istriku menarik napasnya sembari mengelus pelan punggung tanganku. “Ayahmu yang sudah menduda itu juga kehilangan kamu, dan tidak ada kata yang pantas menjadi istilahnya. Karena itu terlalu menyakitkan.”

Setiap embus udara di sekeliling terasa berhenti. Aku seolah diundang masuk ke dunia vakum tak bertepi hanya oleh kata-kata tadi.

Seakan paham bahwa aku sudah didorongnya telak, istriku kian bersemangat menyembur sugesti, “Bayangkan andai kamu ada di posisi ayahmu.”

Hingga akhirnya, kukunjungi Ayah di kediamannya yang lama tak pernah kujumpa. Dedebuan tebal menyembul di permukaan benda-benda, berikut sarang laba-laba yang malang melintang di langit-langitnya.

Kekacauan ini membuatku tafakur. Bahkan saat kulihat lagi-lagi, sosok tua itu mendengkur mabuk di kursi, memeluk kekasih gelapnya yang kubenci setengah mati, yang ada dalam hatiku bukan lagi kejijikan dan kemuakan.

“Ma, kamukah itu? Oh, aku sudah lama merindu …” Suaranya yang serak terdengar. Sempoyongan ia mengangkat muka, dan matanya dikerjapkan hanya demi berjumpa sosokku yang tiba. “Nak?”

Mendadak saja mataku dihinggapi kepakan kupu-kupu.

Istriku benar. Aku dan ayahku sama-sama kehilangan. Mungkin kami terlalu sibuk mencari kaki sebelah yang baru untuk bisa tetap berdiri tegak, masing-masing. Tanpa tahu bahwa kami bisa saling berangkulan untuk menghadapi semua ini bersama lebih baik, andai mau bicara.

Saat itu, aku bersimpuh memeluk kakinya. Menangis.

Tinggalkan komentar