[Recall 6 – A matter life and death]
Mari putar waktu ke tahun 2017, di awal musim panas yang lumayan menyenangkan.
Angin bulan Juni yang hangat dan sinar matahari yang cerah menjadi salah satu pilihan untuk berlayar. Kapal Monstrage dengan dua puluh lima penumpang yang kebanyakan berasal dari kalangan pedagang dan petugas kargo, siap memilih tanggal pelayaran. Lima awak kapal termasuk sang kapten kapal, Sir William MacNab berencana melakukan penyeberangan lintas benua yang dimulai dari laut Hebrides. Rencananya mereka akan tiba sebulan lagi. Tepat pada pekan kemerdekaan Amerika Serikat, sehingga bisa ikut menikmati pesta rakyat tetangga.
Ada salah seorang gadis yang ikut serta. Usianya belum delapan belas. Kulitnya kecoklatan karena sering terpapar sinar mentari. Wajahnya kaku dan kehilangan binar. Seolah menyimpan dendam atau sakit hati yang menahun berkerak. Perannya di kapal itu adalah untuk membantu mengangkut bawaan para penjual. Tubuh kurusnya yang semula dipandang skeptis rupanya menyimpan tenaga yang boleh dikatakan fantastis. Sesekali ia tawarkan aksesoris berbahan platina yang lebih sering ditolak daripada diterima. Setelah itu ia memandangi laut lepas, tak berminat memulai obrolan dengan siapa pun di luar tawaran dagang. Satu-satunya yang pernah mengobrol dua arah dengannya adalah William.
“Davy, waktunya sarapan.” Peter, awak kabal berkebangsaan Nigeria melongok ke arahnya sebentar untuk mengabarkan, lalu kembali ke dapur kapal.
Davina Leslaigh, gadis yang dipanggil itu bergeming, tetap berada di atas geladak, menyandarkan diri pada besi pembatas yang berkarat dan menatapi ombak berbuih di bawah sana. Dialah Dearbhfhorghaill yang telah mengubah identitas dirinya menjadi Davina Leslaigh. Meninggalkan semua kisah masa lalu dan berniat memulai hidup yang baru.
Beberapa awak kapal lain beserta para penjual yang menyewa kabin bergegas pergi mengantri, tapi Davina masih bermalas-malasan. Ia belum lapar. Davina lebih suka makan paling akhir, setelah semua orang selesai mengisi perut mereka, agar selepasnya bisa mencuci wajan dan periuk-periuk, menggosoki dasarnya yang hitam berkerak sampai kembali mengkilap.
Itulah yang membuat William menerima keberadaannya disini. Davy tak memungut bayaran untuk jasanya, selain diizinkan ikut menyeberang sampai benua sebelah, dan pria Skotlandia itu mendapat tukang cuci piring. Win-win solution, simbiosis mutualisme.
Waktu itu mereka telah berhasil melewati sebagian besar wilayah Atlantik dan baru saja bertolak lagi setelah transit beberapa hari di Hamilton. Senja hari datang dengan penuh ketenangan. Langit perlahan-lahan meredup dan kehilangan sinarnya. Lampu kapal menjadi penerangnya. Berani sumpah, tiada satu pun pertanda akan terjadi bencana mengerikan malam harinya.
Davy masih sempat menyantap sisa pelikan bakar dan tuna berbalur bumbu rempah India selagi orang-orang yang melingkari meja bambu besar bercengkrama bermain kartu remi dan saling bertaruh harga. Sloki-sloki yang berdentingan di antara suara tawa, obrolan yang menjalar ke segala arah, makian-makian kasar, dan bunyi gedebak saat tumpukan kartu dibanting dengan penuh bangga oleh pemenang dapat didengar olehnya dengan sangat jelas. Disusul suara keluh dan teriakan, “Ayo main lagi! Kali ini aku bertaruh lebih besar dan kuyakin aku yang akan menang!”
Keriuhan itu belum juga berakhir saat Davina kembali dengan tangan bernoda hitam di beberapa bagian, bekas sentuhan jelaga dari bokong periuk atau panci yang digosoknya. Ia berdiri bungkam memandangi pertengkaran kecil antara dua pemain—yang satu nggak menerima kekalahan sedangkan yang lainnya ngotot akan kemenangannya. Pemandangan yang amat biasa.
Yang tidak biasa adalah di kala bunyi riuh terdengar dari luar dan semua orang tahu bahwa telah terjadi hujan. Bukan cuma hujan, tapi badai. Monstrage terombang-ambing di atas pusaran gelombang dan hujan angin lebat. Peristiwa ini pun sebenarnya bakal jadi hal yang biasa, termasuk lampu yang tiba-tiba mati dan hidup kembali beberapa kali, kalau saja derum kapal tidak ikut berhenti seketika. Meleasapkan seluruh suara dan mengisapnya dalam keheningan. Gerak-gerak terhenti, mata-mata membola.
Keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh bunyi ledakan dari arah geladak bawah. Lampu padam tanpa menyala lagi dan seisi kapal kembali riuh dengan berbagai jenis suara. Ada yang merutuk, menyumpah-serapah, bertanya-tanya, dan ada juga yang mulai berlutut dan merapal ayat kitab suci.
Davina merasa jantungnya berdegup sangat cepat, terlebih ketika derap langkah yang berat melaju ke arah mereka.
“Mesin mati! Tangki terbakar dan generator rusak!”
“Bapa di Sorga…”
Kumpulan manusia semakin ricuh. Suara isak tangis berkumandang dari berbagai penjuru. Tiada lagi yang mengkhawatirkan harta benda, yang mereka cemaskan hanya keselamatan pribadi. Beberapa awak kapal mulai menurunkan sekoci dan mengarahkan penumpang untuk mengenakan rompi pelampung dan terjun ke sana, namun semuanya terlambat.
Satu ledakan besar lagi terjadi, dan kapal itu benar-benar dihempas ombak dengan hebat. Angin menderu-deru. Davy terlempar dari satu sisi ke sisi yang lain. Sebalok besar potongan badan kapal yang entah dari bagian mana melayang ke arahnya dan ia sergap dalam pelukan erat. Davina berkeras untuk tidak melepas atau mengendurkan genggamannya sedikit pun, sampai dia kembali terhempas dan tak sadarkan diri.
Disorot dari angkasa, pusaran badai itu memutar-mutar badan kapal yang tidak lagi berbentuk dan mengisapnya ke dalam lidah ombak nan ganas. Seberkas sinar kebiruan muncul dari bawah laut. Begitu sinar itu padam, Monstrage telah benar-benar karam. Hanya ada ombak yang terus-menerus tersapu badai.
Davina baru membuka matanya ketika mendengar suara kaokan camar dan kepakan sayapnya yang hebat. Sinar matahari menyusup pelan-pelan ke dalam retina. Tubuh Davina terombang-ambing di atas sebuah papan kayu besar. Sebelah kakinya tercelup dalam air laut. Cewek itu mengerjapkan matanya, menghalau perih kandungan garam yang masuk ke dalam.
‘Oh, masih hidup,’ batinnya penuh sesal. Terbersit dalam kepalanya untuk berguling dan membiarkan dirinya tercebur kemudian tenggelam sampai dasar sana, tetapi niatannya dicegah oleh suara kecipak air tak jauh dari tempatnya mengambang. Ia menoleh dengan susah payah, mencari sumber suara. Bahkan untuk memutar leher pun, seluruh tubuhnya ikut merintih. Entah sudah berapa lama ia bertahan dalam posisinya tadi.
Ia berkedip begitu menemukan sosok yang sedang berenang ke arahnya adalah sang nakhoda, Sir William.
“Davy, Davy. Kau bisa mendengarku?”
Davina merasa bimbang. Haruskah ia mengangguk sebagai konfirmasi, atau pura-pura mati agar laki-laki nyaris separuh baya itu meninggalkannya di sana dan pergi menyelamatkan dirinya sendiri?
“Davy, please sadarlah. Bertahanlah!”
Nada cemas dan penuh harap dalam kalimat Sir William mengempaskan opsi kedua. Davina bergerak, memalingkan wajah menghadap laki-laki itu untuk menunjukkan bahwa dia masih hidup dan sudah tersadar sepenuhnya.
“Oh, syukurlah!” Wajah William nampak penuh garam, kulitnya jadi jauh lebih hitam daripada sebelumnya. “Syukurlah …. Kau bisa bergerak? Sedikit lagi kita menepi di pantai, ada pulau di ujung sana. Olliver sudah duluan berenang ke sana dan memanggil bantuan. Kau bisa?”
Davina mengangguk. Sumpah mati, tubuhnya masih lemas. Tetapi tak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri. Baik mati usai diselamatkan orang, atau merepotkaj manusia lain kemudian mati bersama adalah hal yang sama konyolnya.
Gadis itu melepaskan diri dari papan kayu yang membantunya bertahan, dan tercebur ke air laut yang hangat. Namun tak berapa lama, tubuhnya menyembul kembali. Dan bersama William, keduanya memaksa kaki dan tangan untuk mendorong tubuh mereka mendekati bibir pantai.

Satu respons untuk “A Matter Life and Death”