Nemesis

[Recall 5 – Nemesis]

Glasgow, September 2015

“Di mana aku harus meletakkan ini?”

Dua kepala menoleh ke arah Dear. Salah satu di antaranya, wanita bersurai kelabu yang sering dipanggil Madam Howl sang penyembuh, menunjuk meja jati–yang nggak diampelas, dipernis, atau dipelitur sehingga masih tampak tonjolan serat-serat kayunya– dalam rumah bambu beratap rendah dan beralas tanah. “Di sini, Dear.”

Dear langsung meletakkan kardus berisi daun-daun kering ke atasnya, berbaur dengan belanga yang biasanya digunakan untuk mengaduk ramuan.

“Kau nggak perlu membantu. Itu tugas Roul.”

Dear melirik Roul, lelaki berkulit gelap dan berbadan tinggi-besar yang bungkam, kemudian mengangkat bahu, isyarat kalau itu bukan masalah besar. “Aku nggak bisa cuma diam saja.” Dia melemparkan pantatnya ke atas dipan bambu. Mulutnya terasa nggak enak pascapurnama dua hari silam. Bawaannya ingin terus memamah, apa saja. Tangannya terulur, mengambil sepucuk daun entah apa yang berada paling dekat dan mengunyahnya. Biarkan dia jadi kambing saat ini.

Roul ikutan mendekat, meski nggak turut duduk. Bisa-bisa dipan itu ambruk karena nggak kuasa menahan beban tubuh seorang pegulat kelas C. “Biarkan saja, Mom. Siapa tahu dia jadi tahu diri karena menumpang di sini selama dua tahun.”

“Puh.” Dear meludahkan daun yang dikunyah tadi. Brengsek, pahit sekali. “Daun apa ini, Bu?”

“Itu papaya, Bodoh.”

Si cewek menolehkan kepala menghadap Roul yang barusan menjawab. “Aku nggak bertanya padamu, Idiot.”

“Tapi aku ingin menjawabnya, Dungu.”

“Nggak perlu jawaban dari werewolf brengsek sepertimu, You Fucking Jerk.”

“Kau pikir aku beruntung menjawab pertanyaan dari werewolf paling tolol sepertimu?”

Kruk!

Lesatan kata-kata yang sama sekali nggak penting di antara keduanya dihentikan oleh suara tumbukan antara periuk tanah dengan tutupannya yang sengaja diletakkan agak keras oleh wanita bersurai abu.

“Kuharap kau nggak lupa apa penyebab Dear jadi werewolf, Roul.” Suara itu disampaikan dengan tenang dan pelan, tapi membuat Roul diam karena nggak sanggup membalas. Membuat Dear menyeringai sambil mendengus senang, merasa menang.

Roul yang melihatnya mencibir, lalu keluar dari gubuk yang jadi tempat tinggal mereka.

Sudah dua tahun berlalu sejak insiden yang nyaris membuat Dear mati. Nggak bisa digambarkan betapa kecewanya Dear karena masih bisa membuka mata beberapa hari kemudian, mendapati sekujur tubuhnya dibebat dan dibaluri tumbukan daun berwarna hijau kehitaman, terbaring di atas dipan dengan dua wajah penuh rasa bersalah di depan mata. Dear menangis, sesenggukan, melampiaskan semua kekecewaannya dalam racauan yang nggak dimengerti. Barulah ketika dia bisa menguasai emosinya, ceracau itu mampu dicerna dengan akal manusia; kenapa aku nggak mati saja.

Dear masih ingat dengan jelas bagaimana Madam Howl menunduk berkali-kali, meminta maaf akan kelakuan putranya yang berkeliaran di area luar hutan dan menimbulkan korban. Atau bagaimana wajah Roul yang membersitkan ekspresi bersalah tanpa mampu sedikit pun berkata-kata. Atau bagaimana Dear diberi tahu, kalau dirinya kemungkinan besar sudah bukan lagi manusia biasa.

Tentu saja dia membenci Roul setengah mati, memaki-makinya, mengutuknya sambil berharap setiap kutukannya bisa membunuh cowok itu hingga dia mampus berkali-kali. Namun itu sebelum dia merasakan sendiri bagaimana sensasinya jadi werewolf kala proses transformasi pada purnama berikutnya. Seluruh kesadarannya lindap. Akal sehatnya lenyap. Hanya ada dorongan untuk menghabisi apapun yang lewat di depan mata. Apapun yang bernyawa … yang membuat Dear tahu, dia nggak bisa menyalahkan Roul sepenuhnya.

Dua tahun lamanya dia hidup bersama Roul dan ibunya, mempelajari apa saja yang perlu dipelajari untuk beradaptasi sebagai spesies yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Belajar mengontrol diri. Belajar melawan makhluk buas. Belajar mengarungi selat, gunung, lembah landai, jurang terjal, apapun yang bakal bermanfaat di kemudian hari. Ilmunya bukan lagi sebatas perang melawan soal trigonometri atau rivalitas dalam kontes musikal. Dearbhfhorghaill melebarkan sayapnya.

Namun, mengenang hal itu kembali membuatnya ingat pada urusan yang belum usai. Dipandanginya Madam Howl yang kini sedang serius menggeluti ramuannya.

“Madam Howl, aku harus pergi.”

Gerak mengaduk ramuan terhenti sejenak. “Pergi ke mana?”

“Mengurus orang tuaku.”

Ada jeda selama lima belas detik. “Pulanglah. Orangtuamu pasti membutuhkanmu.”

Madam Howl telah salah sangka. Kepulangannya bukan untuk mengurus mereka dalam konotasi yang mulia, tapi Dear pantang menjelaskan semuanya. Sore itu juga, dia kembali, memunculkan diri di antara ibunya dan Geffrey yang hidup damai seolah nggak ada gangguan apa-apa.

Kepergiannya hanya untuk memberikan apa yang pantas dialami oleh keduanya.

Dear menunggu di pelataran belakang, menyembunyikan dirinya di antara ilalang tinggi, sampai deru mesin mobil tiba, memunculkan ibunya dan Geffrey yang saling berangkulan mesra. Dia menipiskan bibirnya. Ibunya belum tahu tentang kebusukan Geffrey, atau mungkin nggak tahu. Saat itulah dia pergi, menyapa keduanya dengan santai.

“Dear, kaukah itu?”

Rangkulan pada sisi tubuhnya sama sekali nggak Dear balas. Dear menolak menjawab pertanyaan soal apapun yang terjadi selama ini, dan dengan malas mendengarkan usaha yang mereka lakukan untuk mencarinya. Dia mengulum senyum begitu mendapati Geffrey yang bergerak gelisah, terlihat begitu gugup dan menutupi semuanya dengan pamit tidur lebih awal.

Biasanya, pertemuan kembali orangtua dan anak bakal diwarnai dengan tangis mengharukan. Farah sudah menangis haru, tapi nggak dengan putrinya.

“Aku datang hanya untuk memastikan Mom dan Geffrey baik-baik saja.”

“Setelah ini kau akan ke mana?”

“Berpetualang, mungkin?”

Farah mengelus tangan putrinya. “Lakukan apapun sesukamu. Tapi malam ini menginaplah di sini.”

Di malam ketika hanya ada suara detik jam dan jangkrik yang berbunyi, Dear menyalakan kembang apinya. Sebuah perayaan untuk menumpas makhluk berdosa di muka bumi. Untuk mempercepat perginya mereka ke neraka.

Keesokan harinya, surat kabar dan berita diwarnai oleh satu tajuk utama:

Kebakaran, Pasangan Suami-Istri Pengacara Tewas Terpanggang di Rumahnya.

Satu respons untuk “Nemesis

Tinggalkan komentar