Ignoble

[Recall 4 – Ignoble]

Tanpa perlu mengerahkan terlalu banyak upaya, Mom cukup tahu diri untuk nggak lagi ikut campur pada nilai dan kepribadian Dear. Dia menjelma induk kucing yang cuma bisa pasrah melihat anak semata wayangnya hidup sesuka hati. Dear yang penurut, yang dijuluki prodigy, yang dibilang berbakat, yang dinilai genius sudah mampus terkubur bersama semua mimpi dan motivasinya. Yang ada hanya Dearbhfhorghaill Leslaigh yang pembangkang, sulit diatur, dan apatis pada masalah sekitar.

Dear tahu ibunya mencemaskan dirinya yang hanya sekolah seperti orang kebanyakan, lalu pulang, dan larut dalam autisme gadget. Tapi apa yang bisa dilakukan wanita itu? Dia nggak akan berani mengomel, sebab dia tahu semua akar permasalahan ini bersumber dari ketidakpuasannya akan hidup.

Farah melampiaskannya dengan bekerja sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Rumah yang dia bangun dari puing-puing rupanya nggak sekukuh ekspektasinya.

Satu dari malam-malam di mana Dear sendirian di kamar dan memainkan ponselnya terusik oleh ketukan di pintu yang lebih mirip gedoran. Mau nggak mau, cewek itu menjeda sementara aktivitasnya, melemparkan benda pipih itu ke atas ranjang dengan jengkel untuk meladeni Geffrey sebentar.

Bau alkohol yang menyengat mulai merasuk ke penciumannya sewaktu Dear membuka pintu kamar.

“Ya?”

“Ibumu belum pulang?”

Dear mendecap. Lelaki ini dungu atau apa. “Kalau lihat mobilnya belum ada ya belum pulang.”

Nggak ada jawaban yang keluar dari lisan Geffrey. Matanya yang merah malah mengitari seisi kamar Dear lalu berhenti pada putri tirinya di depan mata. Tanpa Dear sangka, Geffrey malah mendorong tubuhnya dan menghentakkan pintu agar tertutup. Cewek empat belas tahun yang nggak pernah mengantisipasi serangan apa pun tersungkur ke lantai. Dalam temaram, mata Geffrey berkilat secara nggak wajar.

“Apa yang–”

“Nggak apa. Biar kamu saja,” racau Geffrey.

Dear beringsut tergesa dan bersegera bangkit ketika Geffrey berusaha mendekatkan tubuh berbau busuk. Namun cengkraman kuat di kaki kembali menghempaskan tubuhnya ke lantai. Dear menjerit. Memaki-maki. Meminta bantuan. Aktivitas yang sia-sia, sebab sejak menikahi Geffrey, Farah sengaja mencari rumah yang nggak berada di kawasan ramai, di sisi kota Nottingham yang minim penduduk dan nggak akan ada yang mendengar jeritan Dear sekalipun dia memekik sampai suaranya habis.

Dia membalikkan tubuh, berusaha mencegah tangan pria itu leluasa menggerayangi. Tangan dan kakinya menghantam udara kosong karena Geffrey sigap mengelak dan kembali membalikkan tubuhnya dengan tenaga pria dewasa.

“Brengsek kau Geffrey! Keparat! Sialan!”

Satu tamparan keras di wajah membungkam mulut Dearbhfhorghaill, sekaligus melindapkan kesadarannya. Yang ada hanya kegelapan semata.

Kesadaran itu kembali diawali dengan pengang yang menusuk kepala seolah memaksa matanya rekatan matanya untuk membuka. Saat itulah Dear merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama selangkangannya.

Dia menggerung dan memaki pada langit-langit kamar yang gelap, pada Tuhan, pada kenyataan, sambil bangkit membungkus tubuhnya dengan jaket dan celana komprang. Satu-satunya yang harus dia lakukan saat ini adalah keluar dari rumah yang nggak bisa lagi disebut rumah. Nggak ada lagi yang bisa dipercayainya. Dia berlari dengan kaki telanjang, membiarkan kakinya dihujam kerikil dan cadas, merobek kesunyian malam musim gugur yang berkabut tanpa arah dan tujuan. Bulan bersinar penuh. Sayup-sayup dari kejauhan, terdengar lolongan anjing yang saling bersahutan.

Timbunan asam laktat di paha dan betis mulai merenggut kegesitan berlari. Tempo langkahnya memelan, lalu berhenti sambil terduduk di atas tumpukan daun kering. Di sana dia menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas lutut. Kembali menangis. Mengutuk Tuhan, Dewa, atau siapapun yang memiliki kuasa membolak-balikkan hidup manusia.

Tangisannya berhenti ketika suara ranting patah mengusik pendengaran. Matanya mengitari setiap sudut pepohonan, semak belukar, penuh kewaspadaan mencari apa saja yang mengancam keamanannya. Tubuh cewek brunette mulai menggigil oleh hawa dingin yang menyapa tengkuk. Lalu terdengar geraman tertahan dari arah jam tiga.

Apa itu? Singa? Macan? Anjing?

Usikan semak kembali menjadi bunyi yang membuat Dear menajamkan setiap indra. Pupil matanya membesar, mencari penampakkan apa pun dalam temaram cahaya. Telinganya menajam, mendengarkan suara geraman yang semakin lama semakin dekat. Entah apa yang paling berkontribusi bagi tubuhnya yang gemetaran; embusan angin dingin, atau rasa takutnya.

Saat itulah Dear menangkap siluet makhluk serupa anjing yang mendekatinya. Taring yang berderet itu senada dengan purnama, menampilkan sinar putih dingin, juga matanya yang tajam dan bengis. Dia anggun, tapi juga mematikan. Langkah empat kaki yang perlahan memutar membuat si cewek waspada dan mulai mundur menjaga jarak. Tangan Dear berusaha mengais ranting yang berada di dekatnya, berjaga-jaga. Predator hitam menggeram, liur di moncongnya sudah menetes. Makan …, makan.

Cahaya rembulan menyoroti makhluk yang mendekat, membuat permukaan tubuhnya terekspis jelas. Bukan anjing. Bukan macan. Melainkan seekor serigala berbulu hitam.

Keadaan hening. Hanya deru angin malam pilu yang menjerit; siulan alam yang sunyi. Si cewek menggemeretakkan gigi juga menguatkan genggaman. Sepengetahuan Dear, serigala berburu dalam kelompok kecil berjumlah lima hingga sepuluh, namun di depannya saat ini hanya ada satu. Makhluk ini pun lebih kekar daripada wujud serigala yang semestinya.

Jadi apa ini?

Dear bergerak untuk kabur, namun hentakan yang tiba-tiba, malah membuat makhluk itu menerjangi tubuhnya. Dia memasang kuda-kuda, menyongsong terkaman dengan ranting. Moncong itu berhenti ketika ranting menahan gigitannya. Dalam waktu yang sebentar itu, si gadis menyiapkan tinju di tangan kirinya lalu menghantam telak di perut. Hal yang justru membuat serigala murka dan semakin berang. Makhluk itu mendekatkan moncongnya, sementara Dear masih berusaha menahan ranting. Dalam adu kekuatan yang nggak seimbang, tentu saja si serigala keluar jadi pemenang. Kraaak. Rantingnya patah. Kini moncong itu hanya berjarak satu inchi dari permukaan wajah Dear.

Di momen itu, Dear memutuskan pasrah. Buat apa pula dia hidup? Hendak ke mana pula dia setelah selamat dari terjangan serigala?

Taring serigala mendarat di permukaan kulitnya. Erangannya bercampur dengan geraman si serigala yang kelihatan amat meminati santap malam. Tapi untuk kali ini, Dear nggak berontak atau mengelak.

Bunuh aku, wahai serigala. Kunyah dagingku dan pastikan tubuhku lumat dalam perutmu.

Sayangnya, hal itu nggak pernah terjadi. Beberapa batu terlontar, menghantam si pemangsa yang belum sempat menarik daging yang terhujam taringnya. Sesekali mengenai tubuh Dear yang sudah lunglai dan berantakan nggak keruan. Si serigala menggeram. Siapa yang kurang ajar menyita waktu santap malamnya? Tapi bebatuan itu terus menimpa kepala, punggung, dan kakinya, membuatnya mundur dan lari kalang-kabut meninggalkan bakal mangsa yang sudah nggak sadarkan diri.

Satu respons untuk “Ignoble

Tinggalkan komentar