Manusia Mati Meninggalkan Nama

𝑼𝑵𝑻𝑼𝑲 𝑲𝑬𝑺𝑬𝑲𝑰𝑨𝑵 𝑲𝑨𝑳𝑰𝑵𝒀𝑨, aku menenggak ludah. Sebagai Buddhis yang tersesat di pemakaman Muslim, kuputuskan menjadi bayangan. Menghormati jarak. Menjaga laku. Ini bukan pengalaman perdana aku menjejaki taman pekuburan Islam. Namun, situasi sekarang menyodorkan rasa yang terlampau asing. Sebab sosok yang kujenguki terpaut dua puluh tahun dari masa kini. Figur Abdul—atau Apuy—dalam ingatan teranyarku adalah bocah … Lanjutkan membaca Manusia Mati Meninggalkan Nama