Empat kota tua dipelintir jadi satu rumah. Engkau menyinggahinya saat jauh malam; saat kesadaran jatuh dimakan lelap.
Pertama: lembah tanpa warna, minim cahaya. Angkasa penuh oleh burung hitam. Satu kepak sayapnya memecahkan suara tawa. Banyak tawa. Makin banyak tawa. Kupingmu pengang dan kepalamu pening.
Kedua: hamparan permadani hijau di atas perbukitan. Desau angin yang mengantar dedaunan menari terdengar bagi gemerincing lonceng pukul dua belas malam. Samar-samar, bunyi lonceng berubah jadi suara tawa. Banyak tawa. Makin banyak tawa. Lagi, kupingmu pengang dan kepalamu pening.
Ketiga: malam yang mendamaikan di punggung bukit. Kepalamu dinaungi payung indigo bertabur bintang-bintang, sebagian mereka jatuh ke bawah sana. Bunyi ledakannya menggemakan suara tawa. Banyak tawa. Makin banyak tawa. Lagi-lagi, kupingmu pengang dan kepalamu pening.
Keempat: laut biru yang menganga menghadang gumpalan kapas di angkasa. Batasan pandang hanyalah segaris kurva di hadapanmu, di sampingmu, dan ketika kau berbalik—oh! juga di belakangmu. Satu-satunya daratan adalah apa yang kaupijaki, pepasir nirnoda, lebih mirip butiran susu. Tiada suara-suara. Bahkan pun ombak yang lumrah melagu. Semuanya membisu.
‘Jangan ada suara-suara…’
pintamu—
sebelum tubuhmu jatuh terjerembab lalu terisap.
Masih kaurasakan tekstur lembut pasir itu menyelip di sela-sela jari kaki, ketika kau dihentak masuk dalam spiral candramawa yang berputar-putar seperti gasing. Kini, kepalamu pening dan perutmu besing.
Di ujung perputaran itu, kau mendarat di sebuah dipan putih. Penciumanmu ditonjok bau anyir dan pesing. Kau menangis. Menangis. Menangis. Dan telanjang. Dan memberontak. Tidak sudi dipaksa masuk kemari. ‘Bawa aku kembali,’
pintamu—,
tetapi yang terdengar hanya tangisan.
Anehnya, orang-orang di sekeliling yang menatapmu malah tertawa. Banyak tawa. Makin banyak tawa.
Di sela-sela tawa, kaudengar satu tanya pecah dari mulut seseorang:
‘cantiknya… mau dikasih nama apa?’
