Malam ini terhidang di hadapanmu: sepotong janji palsu. Perutmu sudah begah, kau ingin muntah, kekenyangan disesaki bualan mentah. Namun, hidangan itu tetap menelusup masuk ke dalam perut buncitmu. Tak bisa kausaring. Tiada kuasa untuk itu; mereka terlalu nyaring.
Di meja seberang, tiga orang lahap menyantap aib teman. Mulut memanah dan memamah, menguliti lapis demi lapis, hingga habis sudah daging sang objek pembahasan. Minyak di permukaan mulut mereka mengilap memantulkan lampu dengan bunyi slurup slurup yang menggiurkan.
Restoran ini terlalu ramai. Aroma berbagai macam masakan menguar ke sepenjuru sudut, bercampur aduk hingga jadi lebih mirip bau bangkai. Atau tokai. Aneka hidangan tersembur ke segala arah. Berbaur jadi satu cerocos was-wes-wos. Was-wes-wos yang boros. Was-wes-wos yang tidak tampak punya poros. Was-wes-wos yang mencoblos dinding kuping hingga gembos. Was-wes-wos yang lagi-lagi bisa turut kau nikmati remah-remahnya karena jeblos ke perutmu yang sebentar lagi mau meletos.
Was-wes-wos yang ouroboros.
Gelegak di dalam sana minta dimuntahkan ketika seseorang hendak menyuguhkan padamu secangkir basa-basi sebagai hidangan penutup. Cukup, batinmu, sudah tak kuat, tak boleh lagi ada yang lucup. Resah, kaugenggam pisau dan garpu erat-erat, mengarahkannya pada kuping. Seiris-dua iris, dan darah segar mengalir.
Barulah kau bisa bernapas lega. Tiada lagi suara-suara. Tiada lagi hidangan yang tak kau minta. Kendati pelayan memungut dua potong kupingmu, semua atensi tertuju padamu, dan sontak mereka berebutan ingin menyantap potongan daging segarmu itu, kau tak lagi berpotensi dicekoki apa pun.
Kau bangkit dari dudukmu, melenggang santai sambil bersiul-siul.
