‘Dia merayakan kesakitanmu,’
bisikku, ketika melihatnya berjingkrak dan bersorak riang di bawah taburan confetti berbahan dasar rambutmu. Sedang di bawah kakinya, punggungmu dilubangi.
Namun, kau enggan mendengar. Aku menduga dia sudah menghipnotis atau bahkan membuatmu tuli fisik psikis.
Ingatkah engkau? Pertemuanmu dan Suara-Suara untuk kesekian kalinya adalah saat ia berkeluh, sedang kau berpeluh. Kau tutup jam dua belas. Suara-suara menelusup jam dua belas lewat sebelas. Tapi kedatangannya tetap kau balas dengan belas kasih, tanpa perlu ia memelas lebih.
Dan yang dia lakukan adalah me-me-ras-mu.
Garis kering kuning yang terukir di keningmu yang harusnya dingin dan lembut mungkin pertanda penuaan. Barangkali pula efek terlalu banyak pikiran. Atau akibat tak langsung dari mengeroposnya tulang karena hantaman demi hantaman; polusi, abrasi, erosi, ablasi …
si …
si …
sialan.
Malam ini giliran kau yang datang padaku dan bertanya perihal solusi. Jawabanku:
‘Sebaiknya kau terisolasi.’
Sungguh, kuman yang gemar mendiami pundakmu dan menyerap energimu sudah selayaknya engkau guyur dengan air kobokan. Biar terbebaslah dirimu dari segala macam beban dan penderitaan. Engkau bukan inang, dan dia tak semestinya jadi parasit penumpang. Mungkin ini waktu yang tepat bagimu untuk enyahkan dia jadi bebatuan.
Namun, kau menggeleng.
‘Aku ditakdirkan untuk ini …’ katamu.
Kubalas gelengan lebih tegas usai tawa keras yang terlepas gegas.
‘Untuk dikeruk intinya, dan dia bermaksud pergi menjajah yang lain, di saat kau sudah tak punya apa-apa lagi?’
‘Menjelajah,’ koreksimu.
‘Menjajah,’ balasku lebih lugas.
Kau tak mau mendengar. Maka kuusir kau keluar. Buat apa kau kemari jika bebal? Inti di pikiranmu terlalu saleh, hingga kaupikir dirimu pantas menanggung semua salah. Kaukira kau bandar tempat bersandar, nyatanya kau datang padaku untuk menyandar.
Usai kau hengkang, kukenakan baju; dan tertegun di hadapan cermin. Garis kering kuning mulai muncul di keningku. Lubang di kulit mulai terasa sakit lagi.
Kusambar mantel, bersiap mencari pundak yang bisa jadi tempatku bersandar.
