Pulang

Pukul dua puluh satu, kaudengar suara jeritan matahari pertama.

Rupanya ia masih tersangkut redup, menelungkup sekarat di kaki Barat. Ini sudah lewat waktunya ia terbenam dan membalam. Namun, malam masih ogah menelan.

Kata malam, ‘Masih ada satu bunga yang belum disemainya hari ini.’

Engkau mereka-reka dengan bimbang. Maka apakah merah yang lama merekah di angkasa itu adalah memar; pertanda sakit dan sesaknya diimpit gelap dan terang?

Pukul dua puluh tiga, matahari pertama kian melolong. Menggonggong, minta tolong.

Baik memori maupun imajinasimu kosong dari wadah dan wajah sang bunga. Tiada secuil pun koordinat lintang dan bujur yang diselipkan dalam wasiat. Jadi, berlarilah engkau ke sembarang taman. Ke lautan. Ke hutan. Ke atap-atap rumah orang suci. Ke gunung. Demi mengumpulkan sesaji berkat. Demikian juga dengan keringat. Dan tenggat. Dan akibat. Dan persembahyangan bagi para mayat. Dan niatmu bertobat. Kauhimpun sebanyak mungkin tentara doa, juga mantra yang keramat. Apa pun yang azimat.

Malam memicingkan matanya yang sabit ketika engkau datang membawa nampan persembahan. Ia tentu tengah menimbang-nimbang; mengalkulasi keuntungan dari diplomasi yang barangkali tak seimbang.

Dan, pecahlah nazar itu dari lisanmu yang sembrono:

‘Aku akan jadi matahari kedua yang lebih baik esok hari.’

Malam mengangguk, menganggap tawaran itu cukup pantas. Dibukakannya pintu gerbang menuju perutnya yang nirbatas. Matahari pertama akhirnya terangkut pulang ke perut malam.

Sedang kau tercengang di bawah kubah yang kini gulita, gelisah memandang waktu yang menggelap di tepian dermaga . Juga resah, memikirkan hari esok yang akan kausongsong dengan pundak dihuni beban-beban berat.

Tinggalkan komentar