Redup

Iris jelaga terbingkai kacamata memandangi lekat-lekat monitor di hadapan. Itu jadi hal yang lebih menarik bagiku ketimbang pusing akan makanan yang harus kuhabiskan sebelum jam makan siang berakhir.

Tampang seriusnya, rahang yang mengencang, dan—aku tidak yakin bagian ini karena belum melihatnya secara jelas dengan mata kepala sendiri—sedikit kerut di antara kedua mata adalah hal yang semakin membuatnya tampak berkilau di mataku.

Aku mengenalnya melalui orang lain. Lewat perbincangan mereka, gosip-gosip tentangnya yang tak pernah berhenti, sebab apa pun yang ia lakukan akan langsung menjadi sorotan walau tidak ia sadari. Risiko orang tampan. Kalau mendengar obrolan para karyawati tentangnya, ia akan tahu bahwa dirinya merupakan salah satu kandidat pria idaman yang ingin mereka jadikan suami.

Lamunanku berhenti kala kulihat seorang gadis mendatangi mejanya, membuatnya tangkas merapikan apa-apa yang tadinya menjadi pusat perhatian, dan secara total mengalihkan atensinya pada wanita itu. Mereka tampak sangat akrab, bahkan cenderung mesra, dan aku paham betul gadis di hadapannya itu siapa.

Gosip yang tengah beredar di kantor kini adalah pria itu sudah tak single lagi. Ketahuan berkencan dengan seorang gadis dari perusahaan lain. Melalui senyum bahagia yang jarang ia tampakkan di kantor, matanya yang berbinar-binar kala memandangi wajah di depannya, dan … kecupan pada pipi membuatku yakin benar wanita di hadapannya adalah gadis yang diobrolkan itu.

Menyaksikan semua itu membuat dadaku sakit.

Aku menarik napas. Lalu mengalihkan pandanganku dari interaksi mereka pada makanan yang sedari tadi kuanggurkan. Aku jadi ingin lekas kembali ke kantor karena mendadak aku merindukan berkas-berkas keuanganku.

Waktu yang diberikan perusahaan untuk istirahat berlangsung satu setengah jam. Masih ada setengah jam lagi untukku berleha-leha di kantor. Beberapa meja masih kosong, hanya ada tiga orang termasuk diriku yang sudah kembali ke dalam ruangan yang sejatinya dihuni oleh enam orang.

Kududuk di kursi kubikelku dan kurebahkan kepala sejenak ke atas meja dengan malas.

“Nin, kamu abis makan di kafe seberang apa di kantin?” Windri, salah seorang dari kedua gadis itu bertanya padaku.

“Kafe seberang…,” jawabku malas.

“Lihat Pak Rian nggak? Tadi kayaknya dia ke sana deh. Curiga tuh mau ketemuan sama ceweknya.”

Aku menggeram pelan. Merasa jengkel sebab semua ucapan itu benar adanya. Dan itu membuatku kian malas.

Suaranya mendekat dengan voluma yang diminimkan. “Tapi kudengar-dengar nih ya, dari anak-anak IT, cewek Pak Rian itu udah punya pacar.”

Tubuhku menegak secara spontan. “Siapa yang bilang?”

“Kan udah kubilang anak-anak IT. Lupa deh, siapa.”

Jadi, dia itu orang ketiga?

“Tapi kalau benar, Pak Rian kok asaan bego amat ya. Cakep-cakep kok mau jadi orang ketiga. Kayak nggak ada orang lain aja. Aku misalnya.”

Aku berlagak mau muntah. “Plis, mijak woy, mijak.”

Emoh dengan topik obrolan ini, kunyalakan komputer dan melarutkan diri dalam lautan angka. Ingin rasanya waktu lekas berlalu, malam segera datang dan aku segera pulang.


Bila diibaratkan, aku adalah punuk dan Rian rembulannya. Terlalu banyak orang yang mengaguminya, mengidam-idamkannya karena parasnya yang rupawan dan otaknya yang brilian, tak terkecuali diriku.

Bedanya, jika mereka menampakkan segala rasa simpatik, aku memilih untuk memendamnya rapat-rapat. Karena aku paham betul ia terlalu tinggi buat kugapai dan terlalu jauh untuk kucapai. Jangankan untuk bisa bersamanya, aku pun tak yakin ia tahu aku ada.

Memikirkannya membuat rasa malasku kumat. Kuputuskan keluar dari kamar indekosku untuk mencari angin sekaligus mencari makan malam.

Kafe Queen selalu ramai dari pagi hingga malam. Namun, dari berjuta-juta orang yang menghuni bumi ini, ternyata Semesta malah menyuguhkan orang yang paling tak mau kutemui.

Rian dan kekasihnya ada di kafe itu. Sebisa mungkin aku menyibukkan diri pada Pou di ponsel. Lebih baik meyaksikan piaraan virtualku pup daripada sakit hati.

Sayangnya, baru saja kakiku ingin meninggalkan kafe usai membungkus makanan yang telanjur dipesan, sebuah keributan terjadi dan melibatkan Rian, yang membuatku tak bia lagi pura-pura buta.

Seorang lelaki berpenampilan rapi datang dan menghantamnya, membuat Rian pun seketika emosi dan membalas. Adu jotos yang biasanya cuma kulihat dalam sinetron murahan atau reality show yang tidak real, terekspos live di depan mata. Rian terjatuh. Si perempuan memekik.

“Selingkuh sih, pantesan.”

Kudengar komentar satu dari gerombolan ibu-ibu yang juga turut menjadi penonton adegan drama campur laga yang terpampang langsung di depan mata.

“He-eh,” timpal yang lainnya.”Zaman sekarang satu aja nggak cukup. Tuh cewek serakah banget udah punya yang macho masih juga nyari yang lain.”

“Lagian tuh cowok yang kacamata juga bego, sih. Ganteng-ganteng kok tolol mau sama yang udah punya. Mau aja jadi PHO. Kayak nggak ada orang lain aja.”

Enggan mendengar lebih lanjut, kulangkahkan kaki keluar dari kafe itu sesegera mungkin. Kuhirup udara dalam-dalam, mencoba menentramkan beludak emosi yang hendak keluar dalam butiran air mata. Sungguh memalukan menangis karena problematika orang lain yang bahkan tak menganggapku ada.

Kududuk sebentar di trotoar dekat parkiran. Tiada sekeping bintang pun yang berkilauan sebab langit masih terhalangi saput awan. Sama seperti aku yang masih larut dalam kenelangsaan.

Sebuah benda terlempar masuk ke dalam kotak sampah di dekatku, membuatku terkejut. Nyaris kuomeli manusia tak beretika seperti itu, sebelum kutahu siapa sang pelaku.

“Rian?”

Matanya merah, seperti habis menangis dan bajunya awut-awutan, sisa perkelahian tadi, barangkali. Ia menoleh ke arahku sejenak, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Penasaran, kutengok tempat sampah, mencari benda yang barusan dibuang olehnya. Mataku otomatis tertambat pada kotak merah di tumpukan sampah paling atas.

Bola mataku membesar dan aku gagap mendadak melihat sepasang cincin berlian yang berkilau di dalamnya begitu kukuak kotak itu. Pasti mahal. Bergegas kukejar Rian yang hendak masuk ke dalam mobilnya.

“Rian!”

Gerakannya terhenti. Ia berbalik.

“Apa?” sergahnya kasar.

Kuabaikan sayatan perih yang menjalar di permukaan jantungku mendengar nada suaranya yang begitu dingin.

“Emm… maaf. Anda ketinggalan sesuatu.”

Ekspresinya mengeras kala kutunjukkan kotak cincin itu.

“Itu sampah. Sudah saya buang.”

“Maaf, tapi…”

“Sudah saya bilang itu sampah! Buang saja!”

Bentakan itu membuat tanganku gemetar. Butuh sekian detik untuk menenangkan batinku agar tetap tenang.

“Ehm.” Aku berdeham.”Saya minta maaf. Kalau begitu saya simpan benda ini. Bila sewaktu-waktu Anda membutuhkannya, Anda boleh datang ke divisi keuangan, dan tanyakan karyawati yang bernama Yuninda Safira Mentari. Selamat malam,” ujarku, lalu berbalik.

Kuusahakan kuat-kuat agar air mataku tak tumpah. Entah air mata karena bentakannya dan apatismenya padaku, atau air mata karena tahu ia sedang terluka.

Yang kutahu, kemilau yang selama ini kulihat darinya, tengah meredup malam ini. Dihalangi saput kepedihan seperti bintang yang ditutupi gumpal awan.

Tinggalkan komentar