[Pulang: Di Penghujung Hari]
Senja selalu mempersembahkan apa yang kucari. Euforia kala manusia berwajah lelah akibat menggeluti tumpukan kertas, deretan angka dengan banyak nol, atau lapangan terik yang serba-semrawut, kembali memenuhi jalanan dengan deru kendaraan.
Tak kupedulikan kemacetan yang terbentuk dari manusia yang mengular. Tak kupermasalahkan udara petang yang terkontaminasi asap knalpot atau dengking klakson yang menyeru tak sabar.
Bagiku, keriuhan jalanan dengan wajah-wajah merona keemasan akibat terpaan lembayung, merepresentasikan satu tujuan kami:
Pulang.
Senja adalah masa ketika gagahnya siang akhirnya menyerah dipeluk malam. Ketika hari beranjak dari terang menuju balam-balam. Ketika kami beringsut dari geliat harian ke rehat nan nyaman. Bersama-sama mentari kami pulang.
Sebab senja dan pulang bagiku dua kata yang padu. Seperti rasa kantuk dan tidur. Seperti kotor dan bersih-bersih. Ada hubungan jika dan maka yang dibentuk dari dua kata.
Jika senja telah bertandang, maka marilah kita pulang.
