Tanda-tanda sang ibu menjelma nekropolis sudah lama hadir. Hanya si bungsu-lah yang serempak buta, akibat keterusan dipapari mimpi kosong sendiri, tentang kekayaan, tentang kejayaan, tentang kerajaan, tentang kelayakan ...
Day 16 – Piatu
Fiksi yang mengambil sudut pandang atau kehidupan hewan dan benda mati.
Tanda-tanda sang ibu menjelma nekropolis sudah lama hadir. Hanya si bungsu-lah yang serempak buta, akibat keterusan dipapari mimpi kosong sendiri, tentang kekayaan, tentang kejayaan, tentang kerajaan, tentang kelayakan ...
Kita berdua adalah sepasang, meski tak ditakdirkan di satu tempat, aku percaya kita akan berakhir bersama di tempat yang tepat.
Sebab yang dicarinya adalah hidup. Maka kuberikan itu kepadamu. Yang lebih kekal. Lebih pejal.
Kabar bahwa akan ada angin panas sudah luas tersebar. Mengenai apa itu angin panas, bagaimana wujudnya, aku tidak tahu.
"Kau lihat?" Pertanyaannya mengudara. "Bahkan ketika kamu terluka, yang mereka lakukan cuma sibuk mengurus diri mereka sendiri.
Kau telanjang. Tanpa kepura-puraan. Hanya di depanku.
Kukenang pertemuan pertama dan kedua kami. Biarkan aku mengkristalkannya meskipun kereta waktu terus menjauh. Dan aku menjadi sosok yang tertinggal, sampai kelak aku binasa.
Ini kisah tentang ilalang, yang terbiarkan dan terabaikan. Ini kisah tentang ilalang, yang dianggap tak berguna dan seolah tak ada. Ilalang, meski tak dipedulikan, tetapi peduli.
Prompt: Saung
Prompt: Hitam-Putih
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.