… dan, Laut.
perandaikan ragamu sepangkalan sauh,
maka akulah bahtera
yang telah penat mengarungi cakrawala
kutambatkan sunyi pada tiang-tiang magrib,
tempat para penyadap buih
menggantungkan doa,
beserta lara
pada buritan sukma
telah lama, kusematkan pelampung madah,
namun, tiada satu pun sahutanmu menadah
kecuali kembalinya riuh gelombang
yang lebih paham perihal menghantar rindu
tanpa perlu mengenakan suara
mungkin, datangku laksana
arus—
yang awam pedoman,
gegabah menyusup ke celah terumbu
mencerai-berai diri menjadi serpih
dan takkan pernah genap
hanya agar dapat kautilik sejenak
daripada lubuk resahmu yang sesak
jadi, kala pasang menjelang
kupahat asmamu
pada hamparan pasir yang luluh,
tetapi pasang jua yang melumatnya,
membawamu kembali menjadi laut
tak tertaut,
tak menyambut,
tak menyahut.
dan, aku tentu tahu
tidak semua yang karam
mendambakan selamat
sebagian kami telah menabalkan badai,
sebagai ibunda, dan batu karang
selayaknya bantal peraduan
untuk lelapkan diri dalam gelisah
bersama senandung lulabi para duyung
yang tiada lagi perlu gentar andaikata malam memulung
kini, biarlah kusimpan jejakmu
dalam gulungan ombak
konon, ia gemar mengulang riwayat
yang bahkan tak pernah dipugas
antara engkau, dan aku,
antara risau, dan sendu,
antara cericau, dan gagu,
antara segala yang kita abai atas nama ragu.
dan, andaikata kelak kau alpa
akan cara membaca isyarat rasi,
aku masih tetap di sini
menjadi arus yang tabah menghantar
bahkan bila tujuanmu bukan lagi pulang
sebab, segara pun mafhum
tak semua yang pergi
adalah untuk kembali lagi
beberapanya cukup terbingkai dalam memori
laksana aroma garam
yang meresap ke pori-pori
dan menetap diam
kendati raga telah jauh dari pesisir.
dan, bila akhirnya
namaku diperasingkan lisanmu
tak mengapa—
aku telah menyatu
menjadi laut
yang pernah disambut
yang pernah bersahut
yang pernah memaut
yang pernah memagut
sebelum menuntas dan menumpas kalut
melepas semua taut
menuju
mulut
maut.
Menghikayatkan Larung
