Abyssus

Semula, kupikir samudramu terlalu dalam. Terlalu menyeramkan. Berpotensi menenggelamkan.

Tampak nihil oleh suara-suara. Gaung cahaya pun menyerah menembus, bersimbah takluk oleh pembiasan yang menggerus.

Tinggi nian probabilitas kehancuranku. Aku akan mati kehabisan napas. Mati oleh empapan apa pun, di tengah gumulan misteri nan ganas. Mati sebab tak tahan dengan rahasia yang buas. Siapa di dunia ini yang luput tahu, bahwa samudra menumpangkan tekanan jua bahaya tak terduga, di balik tenangnya permukaan yang tertangkap netra?

Selagi ujung kakiku berpijak pada tepian, kupandang riak yang berkilau itu. Ilusi di kepala mengubahnya menjadi mata yang mengerjap-ngerjap mematri, tangan yang mengayun-ayun menanti.

Sementara angin laut berbisik, ‘Tak semua yang memanggil harus disambut’.

Sejenak, kudengarkan bisikan itu. Aku takut. Pada kedalamanmu. Juga, pada diriku sendiri. Yang mungkin takkan sanggup bertahan di kedalaman mengempap, andai kuputuskan menerjunkan diri.

Namun, waktu, dengan kesabarannya yang lembut, sanggup mengubah rasa takut menjadi penasaran nan menyulut. ‘Tiada salahnya mencoba’, terjemah auman tiap detiknya dari dalam benak.

Kau tidak menyeretku. Tiada pula memaksaku. Kau hanya menanti. Seolah yakin pasti. Selaksana lautan yang tahu, ia akan tetap bertahan, bahkan jika seisi daratan ambruk menjadi reruntuhan. Terdapat hal yang bijak dalam caramu menunggu. Entah apa itu. Seperti telapak yang membuka, tanpa perlu berkata-kata. Ajaibnya, itulah yang menjadi daya pikatmu.

Perlahan, aku kembali mendekat. Mengulurkan tangan, guna menjemba sodoran ombakmu.

Gelombang pertama mengecup pergelangan kakiku. Dingin. Sesuatu berdenyut ganjil. Bagai persilangan rasa gentar, serta panggilan untuk menghela palar. Padahal, mataku memirsa bahwa kau tak melisankan apa pun dengan segenap sadar. Tetapi runguku mendengar. Nyanyian yang mengelu, di sela napas yang membias serta desir angin nan mendayu-dayu.

Dan, mungkin untuk pertama kalinya, kupercaya sabda para pakar jiwa; rasa, memang tak harus dibakar. Idealnya, ia cukup diterima dan diringkus erat, agar bisa dijinakkan dalam tepukan sabar. 

Tatkala akhirnya aku rebah, dunia di permukaan perlahan menjauh. Suara-suara buyar. Suar-suar pudar. Namun, hatiku justru terasa lebih tegar. Kutemui engkau di tengah-tengah, pada ambang antara pasrah dan sadar.

Bibir itu tersenyum. Tanganmu membentang lebar, dari jarak lebih dekat menawarkan rengkuh yang sungguhan. Kau biarkan aku memilih, menyambut pelukan itu, ataukah menampiknya.

Waktu terus menuntun dengan laju nyaris mistikal. Helaan halus itu membuatku mengerti, arti kendali ialah tidak pernah menjuruskan pemaksaan. Dalam memberi arah, ada cinta; dan dalam menyerahkan diri, senantiasa ada kepercayaan yang merdeka.

Kau menjelma semesta yang menata ulang definisiku tentang kenyamanan. Sakit dari tekanan yang merongrongku kini tak lagi membuatku meringis. Eksistensinya semata tanda bahwa aku masih ada, masih merasa, masih terjaga, di bawah pengawasanmu yang berantakan sekaligus taktis.

Gelembung-gelembung melayang dan lantas pecah di ambang bayang-bayang. Membuatku mafhum. Kasihmu tak perlu selalu hadir dalam kelembutan yang halus. Kau bisa menjelmakannya menjadi tarikan yang erat, tatapan yang sarat, jua keheningan yang berseloroh lebih keras dari seribu janji terikat.

Engkau dan kedalamanmu, ialah ruang untuk memahami batas diri. Engkau dan lautmu, ajarkanku keseimbangan, antara berdaya dan percaya. Kutelusuri setiap arus berliku, dengan rasa syukur membuncah. Bergulung bersama segenap misterimu, engkaulah muara bagi segala yang dahulu senantiasa kutolak: ketakutan-ketakutan.

Semula kupikir samudramu akan menenggelamkanku. Namun, begitu aku kautenggelamkan, kauajariku satu hal yang mahal harganya: tata cara berenang tenang di antara ancaman-ancaman yang riuh menerjang.

Tinggalkan komentar