Aeternum

β€œApa yang kau lakukan apabila kau π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’π˜©-π‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’π˜© mencintai seseorang?”

πΎπ‘’π‘˜π‘Ÿπ‘–π‘ π‘‘π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› ia dalam kemilaunya π‘ π‘Žπ‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Ž; membersamayamkannya di antara rima dan diksi, koma dan noktah, berenang-renang dalam lautan prosa yang π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘’π‘›π‘¦π‘’π‘‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Ž, dengan tinta dari embun yang dititiskan kedua mata. π‘€π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘€π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž dalam antologi puja, dan ode, yang sarat maupun yang isyarat; yang berat ataupun yang ibarat.

Kata-kata berbunga yang ‘kan π‘šπ‘’π‘™π‘’π‘˜π‘–π‘ π‘˜π‘Žπ‘› jejak esksistensinya dalam bilangan rotasiku. Dan, takkan kuhengkangkan ia dari museum. π‘‡π‘Žπ‘˜π‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘’β„Žπ‘’π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘› π‘–π‘Ž, sekalipun kelak, π‘˜π‘’π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘˜π‘–π‘›π‘Žπ‘› memecah belah gugus menjadi serpihan gemintang yang berpencaran.

Sebab, dalam mahligai rasaku, ia bersemayam sebagai π‘—π‘–π‘€π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘’π‘ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–.

Sebab, dalam semesta kataku, hatiku setidaknya pernah dijelmakan selayaknya π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Žπ˜© π‘˜π‘’π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž.

Tinggalkan komentar