Satis

Duhai …, alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara.

Tak butuh lagi menakar-nakar berapa gantang gandum di lumbung tetangga, atau seberapa berkilau emas di jemari kawan lama.

Tak perlu pula berebut remah di meja perjamuan. Perutmu tak lagi mengusung busung. Hati itu tiada pula membising. Dan, inilah singgasana, bagi jiwa nan bening.

Sebab, rakus adalah penyakit yang membuat mereka akan selalu merasa telanjang, kendati telah tidur didekap sutra. Hingga engkau pilih kenakan jubah syukur. Selembar pakaian yang takkan pernah lusuh, kendati zaman terus berganti rupa.

Pada masa kaulihat manusia lain sedang saling sikut demi sejumput pujian, seulas senyum tipis merekah di rautmu yang pelita. Senyum iba seorang tua yang menyaksikan anak-anak kecil saling tengkar memperebutkan mainan jelata. Matamu memirsa setiap orang sedang bertarung dengan rasa lapar yang beraneka. Lapar perutnya, lapar hartanya, … tetapi yang paling malang, ialah mereka yang lapar pengakuan.

Lama engkau berdiam dalam kekayaan batin yang adiduniawi. “Setiap jiwa membawa cangkir dengan ukuran yang berbeda-beda,” sabdamu suatu ketika. “Mengapa harus meratapi milik orang lain yang tampak meluap, jika di tanganku ini telah kugenggam segelas air murni?”

Sebab, tamak adalah penyakit mereka yang jiwanya masih yatim piatu. Yang selalu merasa kurang, sekalipun seisi samudra telah direguknya hingga kembung. Senantiasa merasa tak kunjung palum, bahkan andai segala perisa dituangkan ke atas lidah hingga bergulung. Engkau cukupkan diri dengan segelas air putih; yang tawar, yang memadamkan pijar, tetapi sanggup membuat jiwamu berhenti mengejar-ngejar.

Berjalanlah engkau di antara hiruk-pikuk manusia. Berjalanlah dalam langkah yang terkayuh ringan. Tiada beban kebencian kaupikul. Tiada pula duri dengki di balik jubahmu yang kaupanggul.

Setiap kali engkau mendapati seseorang mendaki puncak yang lebih tinggi, bibirmu lagi-lagi menyunggingkan senyum tulus. Di matamu, tak perlu ada perbandingan. Dirimu sendiri yang telah berdiri di sana. Menyertai mereka dalam beludak euforia yang setara. “Gembira ini perayaan bersama,” katamu lagi. “Kesuksesan orang lain membawakan hangat serupa, tanpa pernah mengurangi jatah mentari, untuk diriku sendiri.”

Telah tibalah engkau. Di dermaga itu. Tempat seluruh badai hasrat dan kemelut indriya akhirnya surut, menyisakan tenang yang tak bertepi dan takkan pula larut. Kupelajari satu perkara baru: memang tak perlu engkau cari-cari lagi Sang Matahari. Pasalnya, di dalam jiwamu, rembulan telah menetap abadi.

Di pasar dunia ini, jiwa-jiwa kelimpungan memburu dan menimbun beban yang mereka namai kejayaan. Sementara engkau, berjalan pulang dengan tangan nan kelompang, tetapi membawa seantero langit dalam rongga dada yang melampaui segala batasan.

Tinggalkan komentar