Noirvarna

Tuhan karuniakan Semesta ini selaku kanvas yang luas. Di atasnyalah Dia bubuki aneka ragam seni-Nya. Nyanyian, musik, tarian, drama, sastra, lukisan, ukiran, potret. Gunung dan lembah. Sungai dan gurun. Langit malam yang ditaburi keping gemintang. Laut lepas yang mendeburkan ombak. Taman bunga rekah di dataran rendah. Salju yang membaluri jalanan, hujan yang menggenangi ceruknya, hutan dan orkestra satwanya, tawa dan tangis manusia yang silih berganti mewarnai kehidupan, ragam kecamuk emosi yang dialami makhluk berakal, … 

segala apa-apa yang bisa dijangkau oleh indra, segala yang mampu ditelurusi via jalur makna.

Maka semua warna berharga. Putih, merah muda, biru, hijau, emas, serta warna-warna cokelat sepia … tetapi di atas segalanya, engkau jadi warna yang paling kuhormati. Dalam perspektif seni, engkaulah 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫.

Muara dari segala ketiadaan. Yang tunggal … Yang tinggal … Jauh sebelum suara-suara dilahirkan muasal. Bertakhta tenang … mendahului Sang Cahaya membelah cakrawala, untuk menamai diri sebagai: Terang.

Dan, apa pula itu nuraga? Tak butuh kauminta dipuja. Tak butuh pengakuan dari rona-rona yang fana. Berdirimu saja sudahlah seonggok keutuhan yang purna. Sebermakna sebelah entitas nan terjalin di sepermukaan Yin dan Yang. Pada simpul yang sama; dualitas dari yang hina dan yang maha.

Dikatakan ada, dikatakan tiada. Dituding padam, dituduh kejam. Dianggap noktah nan hampa, dianggap kemewahan yang memeterengkan jiwa. Segalanya bergantung pada iman manusia. Dipandang sebagai penjaga rahasia-rahasia di dasar misteri tak terpeta, dibilang pangkuan bintang-bintang untuk memamerkan pijarnya. Kau biarkan galian itu menempel pada mata-mata yang tentukan renjana.

Sedang aku menyebutmu Nirvarna merangkap Purnavarna. Muasal yang kekal. Kekal yang pejal. Pejal yang netral. Netral yang formal. Formal yang mahal. Mahal yang ideal. Ideal yang final. Menyembulkan kemewahan dan kesederhanaan yang memanjakan akal. Paduan elegansi dan nihilisasi. Tanpa rangkulanmu, Dunia takkan pernah mengenal arti benderang. Kepadamulah segala warna akan berpulang. Ke serapanmulah segenap rona akan terbuang.

Tinggalkan komentar