Tacenda

#DreamyValentine โ€ข ๐Ÿญ โ€“ ๐—ง๐—”๐—–๐—˜๐—ก๐——๐—”

โš ๏ธ ๐Ÿฃ๐Ÿช+ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต; ๐˜Œ๐˜น๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ท๐˜บ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ, ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ญ ๐˜ง๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ.


๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘ฑ๐‘ฌ๐‘ณ๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ ๐‘ซ๐‘ฐ๐‘ต๐‘ฐ ๐‘ฏ๐‘จ๐‘น๐‘ฐ, ๐‘จ๐‘ท๐‘จ๐‘น๐‘ป๐‘ฌ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘ฒ๐‘ผ dikuasai komposisi wangi mawar. Sebelum digusur aroma pelumas, rokok yang membusuk di lumbung asbak kristal, feromon pria, dan sperma yang mencecer.

Pengecualian untuk malam Kamis. Satu-satunya dalam sepekan, kuikhlaskan parfum lelaki menyengat mengambil alih kuasa olfaktori di palung malam. Parfum Ben.

Ben, hanya Ben. Sungkan kudengar namanya selain Ben. Entah Benedict, entah Benjamin, entah Ben lain. Tak pernah ia bercerita. Tidak ingin pula aku bertanya.

Nama lengkap, asal kota, profesi, …, semuanya berlaku selayaknya rahasia negara. Ironisnya, yang paling banyak kami maki justru negara.

Vice versa, ia pun tak pernah menanyakan tarif setelah pertama kali menyewa. Apalagi menawar harga. Malah senantiasa dikucurinya aku bonus super tinggi.

Menurutmu, apa yang ia bayar? Performaku yang memuaskan? Telingaku yang siap menampung celatan makian? Ataukah dongeng asal bunyi, yang selalu kususupkan kala panas kami akhirnya dapat diredam?

Mungkin kesemuanya. Mungkin tidak kesemuanya.

Prosesi bersama Ben senantiasa dimulai dari dirinya menengak sebotol bir. Sementara aku mengamati. Sensualitasnya kala berdiri. Lisannya yang mulai meraungkan betapa sumpeknya negara hari ini. Seolah Ben tengah mendatangi area debat Capres, bukannya kediaman pelacur pribadi.

โ€œ… negara ini membaikโ€”๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ถ!โ€

Jakarta di balik kaca umpama tumpukan rongsok yang digosok biar bersinar. Ben berdiri menghadapnya. Bermuka berang, separuh telanjang, membelakangi ranjang.

โ€œMereka lagi-lagi berdelusi,โ€ komentarku.

โ€œOrang enggak pernah napak. Enggak pernah tahu rasanya sikut-sikutan cuma buat nasi bungkus di kampanye busuk. Enggak pernah ngerasain gaji dipotong pinjol, BPJS dibekuin, token menjerit, rumah enggak kesentuh-sentuh sampai jadi almarhum. Bajingan-bajingan itu makan dari keringat orang yang mereka injak tiap pagi, ketawa ngik-ngik di atas lumpur nyawa orang lain!โ€

Tawa kecilku menyembur. โ€œGimana lagi? Mulut aja gampangnya ngebacot soal hilirisasi harga mati, tetapi bikin pohon-pohon mati sungguhan. Apa lagi yang diharapkan dari dinasti berkedok republik. Hukum ditekuk-tekuk macam kertas origami.โ€

Ben tidak ikut tertawa. Dia buang muka ke sembarang arah. Napasnya memburu. Terhidu aroma kemuakan yang lama berkarat. โ€œKupikir masih ada yang tersisa. Cahaya, kebaikan, hati nuraniโ€”apalah. Nyatanya emang babi-babi yang pakai dasi itu. Kali ini beli jet pribadi pakai uang rakyat. Yang pajaknya jadi naik tetapi fasilitasnya sekarat. Meanwhile anak SD bundir gegara enggak bisa beli buku cuma jadi data statistik. Plenger. Semua plenger, Nin! Anjing! Enggak ngerti lagi aku!โ€

Ini yang lucu dari seorang Ben. Abilitas memadukan rima estetis khas pujangga dengan aneka satwa. Tidak perlu alkohol untuk merasa bergairah. Cukup mendengar Ben memuntahkan murka untuk regulasi gila yang agaknya barusan disahkan di gedung yang atapnya menyerupai tempurung kura-kura. Dari caranya meringis sadis, terpancar sesuatu yang jauh lebih erotis, dibanding ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ต๐˜บ ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ mana pun.

โ€œUhhhm …โ€ Kudekati ia. Jemariku merayapi pundak dan dadanya. โ€œBabi cocok, sih. Makhluk serakah yang enggak ada puasnya ngentotin ibu pertiwi.โ€

Terbitlah geraman dari suaranya. Sebelum ia tarik rambutku, lantas ia raup bibirku dalam lumatan ganas.

Kemarahan Ben adalah bensin. Aku sumbu yang lama menyimpan api. Bertabrakanlah kami, sebelum rebah pada seprei yang masai. Dalam pergulatan yang lebih mirip upaya saling menghancurkan daripada bercinta. Apa pula itu ruang untuk romansa mendayu. Yang kami kenal hanyalah keringat yang membanjiri lekuk tubuh, erang-erangan panjang yang lembab dan basah, serta ciuman yang terkesan bagai upaya membungkam teriakan satu sama lain terhadap negeri yang kian hari kian bobrok.

Dan, dunia ingar bingar dalam kecup yang lucup. Dan, ledakan pecah berkali-kali didorong murka untuk melibas atmosfer nan kuyup.

โ€œYou always know where to dump my filth, Nin. You know I love you, right?โ€

Dan, kalimat satu itu, frasa yang berbulan-bulan membuatku bergidik, lagi-lagi tersampaikan lisannya yang kalap di ambang hirup. Pada sela napas yang tersenggal dan sisa sapuan gelombang yang belum sungguhan redup. Satu-satunya kalimat yang membuatku berharap kuping bisa menutup.

Ben berbaring menyamping. Jemarinya menari-nari bebas di lekuk pinggangku.

Entah dirinya memang melayang di batas sadar, atau sudah sepenuhnya segar. Suara seraknya tahu-tahu melontar:

โ€œJadi, apa dongeng kita hari ini, Nin? Yang sedih, kalau bisa.โ€

Sepintas aku dirayapi hening.

Detak jam di dinding mendadak terdengar lebih nyaring. Agaknya, waktu juga tak seberapa tabah menagih bayaran atas panjangnya masa bergeming.

Langit-langit jadi tempat atensiku berpaling. Kamar ini mendadak terbelah jadi dua bagian asing. Yang satu penuh dosa, sebelahnya menyumpal rahasia-rahasia.

Sementara aku terjebak dalam selaput sendu sendiri, seketika.

Apa yang lebih sedih dibandingkan sepotong kalimat yang takkan pernah sanggup dihantarkan lisan?

โ€œIni folklor lama tentang imortal yang dikutuk,โ€ tuturku pada akhirnya. โ€œDia bisa pindahkan gunung, rubuhkan kerajaan-kerajaan, cuma dengan satu jentikan jari. Tetapi, ada satu yang dia enggak bisa lakukan.โ€

โ€œMmm? Apa itu?โ€

โ€œMemeluk orang yang dia cintai.โ€

Ben mengerjap. โ€œWhat? Why?โ€

โ€œYa … dikutuk. Tubuhnya bakal kerasa macam ditusuk seribu pedang setiap kali sentuhan itu didasari kasih sayang. Kutukannya itu, karena di masa lalu, dia anggap cinta cuma gangguan di tengah ambisi membangun kuasa. Sampai kekasihnya bundir gegara enggak dianggap.โ€

Pelukan Ben tahu-tahu mengerat. Tubuh telanjangnya menempel lebih dekat, lebih lekat. Deru napasnya menyapu tengkuk, begitu hangat. Hangat yang diam-diam menoreh sayat. Jauh di bawah kulitku, rindu mulai serakah merambat. Mengendurkan logika yang sejak tadi kupertahankan tetap terikat. Perihnya begitu hebat; amat sangat keparat.

โ€œEnggak seberapa menyedihkan,โ€ Ben berisik di leherku. โ€œLebih kasihan aku, Nin. Kita bisa barengan maki-maki para keparat, seks sampai banjir keringat, tetapi enggak bisa dibalas pakai satu kalimat yang sama.

โ€œOh, Ben. Here we go again?โ€

Ben tak mendengarkanku. โ€œMisalkan ada awards buat orang yang sabar mencintai tanpa balasan, aku pasti bakal masuk nominasi.โ€

โ€œBen?โ€

โ€œHm?โ€

โ€œIโ€”โ€

Kalimat itu mendekam di pangkal tenggorokan, laksana segenggam paku berkarat. Yang justru menolak dimuntahkan lantaran takut akan membuatku sekarat. Mengucapkannya berarti bunuh diri profesional dalam waktu singkat. Mengakui bahwa aku telah menjadi pecundang, yang jatuh cinta pada seonggok transaksi bersyarat. 

Beruntung, dengkuran Ben terdengar setelahnya.

Tak perlu ia dengar isak bisuku yang bergumul sesak.

Di duniaku, cinta adalah cacat produksi yang paling gawat. Sementara aku pelacur khianat, yang terlalu pengecut untuk menjadi rusak secara bulat. โ‹† ึดึถึธ เน‹๐“‚ƒ

โœŽ๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น

948 words
Fiksi ini ditulis untuk Dreรกmland dengan prompt: โ€˜Learning to say I Love Youโ€™
๐˜›๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข: ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ข๐˜ช๐˜ฅ

Tinggalkan komentar