#DreamyValentine • 𝟮 – 𝗦𝗢𝗟𝗜𝗩𝗔𝗚𝗔𝗡𝗧
𝑻𝑬𝑵𝑮𝑨𝑯 𝑲𝑼𝑻𝑨𝑵𝑫𝑨𝑻𝑨𝑵𝑮𝑨𝑵𝑰 𝑩𝑬𝑩𝑬𝑹𝑨𝑷𝑨 𝑫𝑶𝑲𝑼𝑴𝑬𝑵 investasi kala dering telepon di atas mejaku pecah. Hanya satu dering pendek, tetapi cukup tajam untuk merobek keheningan yang baru saja kubangun di ruang kerja ini.
Begitu gagang telepon menempeli kuping, suara seorang karyawan menyusup dari seberang kabel. Suaranya tersampaikan dalam bisikan rendah, “Mas Ben, ada Mbak Dhi di sini.”
Jenis laporan yang rutin tiba. Namun, senantiasa terasa istimewa.
Efeknya pun sama. Napasku tertahan di pangkal kerongkongan. Ritme jantungku menggedor rusuk lebih kuat. Malahan, kali ini, reaksi psikologisku terasa jauh lebih intens. Segala yang kulakukan jadi tak lagi menarik dan bisa ditunda.
Memang pernah—selalu, lebih tepatnya—kuingatkan semua staf yang kupercaya: setiap kali perempuan satu itu bersambang dan aku kebetulan ada di tempat, beri tahu aku melalui sambungan internal.
Mungkin aku terdengar sebagai pemilik kafe yang terobsesi pada satu pelanggan. Tak akan kutampik tuduhan itu. Sekalipun aku bisa saja berdalih, bahwa hanya ingin kupastikan semestaku masih berputar pada poros yang sama.
Segera setelah gagang telepon kembali pada tempatnya, kudorong roda-roda kursi berputar di lantai, membawaku mendekati jendela besar. Satu-satunya mata analog bagi ruangan ini.
Sekat kaca yang menutupi kuturunkan perlahan. Derit kursi mencubit udara kala aku kembali bersandar. Ini posisi yang nyaman untuk menambatkan atensi. Balkon rahasia yang memungkinkanku menembusi batas antara ruang pribadiku, dengan hiruk-pikuk ruang duduk di bawah sana, tanpa perlu terlihat.
Tidak sulit bagiku menemukannya. Sosok itu serupa magnet bagi jarum penglihatanku. Tepat pada pojok yang sedikit temaram, Dhi bermukim. Rambutnya yang panjang kecokelatan diikat tinggi.
Perempuan itu selalu datang sendirian. Mengambil tempat yang berbeda-beda dalam setiap kunjungan. Seakan masing-masing kedatangannya serupa proses meditatif untuk berkawan dengan setiap jengkal titik koordinat di ruangan. Dimulai dari sudut yang menghadap jalan raya, hingga meja kecil di samping tangga.
Hanya pesanannya yang tak pernah berganti. Double-shot Espresso, dan sepotong Lemon Tart. Pahit yang pekat untuk membasuh asam yang segar.
Selain itu, Dhi menyimpan pola yang nyaris menjamah batas sakral.
Akan ia lepas arlojinya sebelum menyantap, meletakkannya dengan presisi pada ujung meja. Tiada pula gawai membersamainya. Entah dimatikan, entah dibungkam, tetapi selama kuamati, tidak pernah sekalipun ia melirik benda pipih itu. Kutafsirkan itu sebagai langkahnya membebaskan diri dari kungkungan waktu.
Kemudian, begitu kiriman diantarkan, Dhi akan mengulas senyum, berterima kasih, dan mengembarakan jemarinya pada tepian piring porselen, sebelum mulai menyentuh garpunya.
Perempuan itu menyimpan tesis dan antitesis sekaligus. Kesunyian dan keriuhan dalam satu konsensus bernama tubuh.
Akan tetapi, sejauh mataku dapat dipercaya, Dhi tak pernah terlihat bosan. Tak pernah sedetik pun ia mengesankan kesepian. Justru, pada momentum itulah dirinya terlihat sebagai “Dhi”.
Dhi yang membelah tart dalam ukuran kecil-kecil.
Dhi yang senantiasa memejamkan mata selagi meresapi setiap kunyahan.
Dhi yang mengunyah dan menyeruput perlahan-lahan.
Dhi yang seolah mengabadikan momen di tempat ini sebagai fragmen kebahagiaan, yang harus ia simpan baik-baik di lumbung ingatan.
Entah sudah berapa lama aku mengawasinya. Dimensi waktu tidak berjalan selama ia memasuki lanskap pandanganku. Tahu-tahu saja, Dhi sudah mulai merapikan barang-barangnya. Perempuan itu mengenakan kembali jam tangannya.
Namun, ia tak segera beranjak. Dhi justru menyandarkan punggung. Menyesap sisa espressonya yang mungkin sudah mendingin, sembari menatap lekat pada dinding bercahaya di hadapannya.
Itu bagian favoritnya. Juga, favoritku.
Instalasi dinding digital yang menampilkan visual hujan imitasi. Rintik-rintik air maya dijatuhkan dengan ritme statis. Menciptakan ilusi melankolia yang abadi di dalam ruangan itu.
Dhi selalu tampak terhipnotis. Rintik cahaya itulah penutup ritualnya mengencani sunyi, sebelum benar-benar kembali ke dunianya yang penat.
Mendadak, sebagian jiwaku memberontak.
Melihatnya begitu tenang di balik rintik hujan buatan itu membuat semuanya terasa tak cukup. Kesabaran yang selama ini kubangun sebagai pengamat rahasia, seketika runtuh.
Mungkin karena peristiwa malam Kamis itu. Terbitlah dorongan untuk keluar dari bayang-bayang persembunyian. Harus kucoba sepenggal gagasan; kesempatan terakhir ini, untuk mematuhi letusan nyali. Tak bisa kubiarkan ia pergi dari teritoriku, hanya sebagai kupu-kupu yang tak dapat kutangkap lagi, malam ini.
Denting piano berpindah ke nada minor yang lebih rendah kala aku keluar. Namun, derit lantai kayu di bawah kakiku malah terdengar brutal. Ataukah itu ritme jantung berikut derap langkahku sendiri yang kelewat buas?
Ayunan sepatuku melambat, dan berhenti mengayuh tepat di hadapannya. Kuputus garis pandangnya pada hujan imitasi itu.
Napas kuatur sebisa mungkin agar tak seberapa terengah.
“Halo, Nin.”
Satu-satunya hal yang tidak pernah kuterka akan berlangsung darinya, akhirnya terjadi.
Dhi menoleh dan mendongak. Mata perempuan yang memantulkan redup cahaya membola. Tak bisa kutafsirkan sebagai keterkejutan, ataukah ketakutan. Bibir yang biasanya tenang itu sepintas bergetar, sebelum akhirnya melirihkan sepenggal nama, yang kukira hanya milik malam Kamis kami semata:
“B—ben?”
Perempuan inilah Dhi, yang telah kukenal selama sepuluh tahun.
Entah emosi yang mana pun, dapat kumaklumi alasan ia terkejut serta takut. Bagaimanapun juga, ini pertemuan pertama kami di luar apartemennya. ⋆ ִֶָ ๋𓂃
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
761 words
Fiksi ini ditulis untuk Dreámland dengan prompt: ‘A Table for One’
𝘚𝘰𝘭𝘪𝘷𝘢𝘨𝘢𝘯𝘵: 𝘸𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘭𝘰𝘯𝘦; 𝘧𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘢𝘤𝘦 𝘪𝘯 𝘴𝘰𝘭𝘪𝘵𝘶𝘥𝘦 𝘳𝘢𝘵𝘩𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘰𝘯𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦𝘴𝘴.
Solivagant
