Retrograde

#DreamyValentine โ€ข ๐Ÿฏ โ€“ ๐—ฅ๐—˜๐—ง๐—ฅ๐—ข๐—š๐—ฅ๐—”๐——๐—˜

๐‘บ๐‘ฌ๐‘ท๐‘ผ๐‘ณ๐‘ผ๐‘ฏ ๐‘ป๐‘จ๐‘ฏ๐‘ผ๐‘ต ๐‘บ๐‘ฌ๐‘น๐‘ผ๐‘ท๐‘จ ๐‘ฎ๐‘จ๐‘น๐‘ฐ๐‘บ lengkung yang akhirnya bertemu pada satu titik koordinat di meja nomor dua belas. Sorot lampu kafe temaram menyapu dua wajah. Menghentikan sejenak laju waktu. Menjepitnya dalam dua pasang mata yang saling mengunci.

Arloji yang baru Nindhi kenakan kembali, mendadak seberat dan sedingin borgol besi. Pria yang biasanya ditemui dalam kamar apartemen dan menganeksasi ruang pribadi dengan parfumnya, kini mencelat keluar dari dongeng malam. Menyihirnya jadi gagu.

โ€œHai, Ben. Uhm …, kebetulan kita ketemu di sini. Baru datang? Aku sudah mau pulang.โ€ Sepotong basa-basi itu terdengar hambar.

Ben menarik kursi. Meja untuk satu orang kini dipaksa menampung dua beban hidup, berikut pertanyaan dan jawaban yang siap diledakkan. Degup jantungnya berulah lagi. Ini teritoriku, batinnya berkali-kali.

โ€œSudah, dari tadi. Rencananya mau lembur di sini.โ€

Nindhi tidak tahu harus kaget atau kikuk. โ€œOh. Kamu kerja di sini.โ€

Tatapan Ben terpaut lekat pada perempuan itu. Dalam sorot yang tidak mengandung kemarahan pada negara. Suara itu pun tak lagi memuat makian. โ€œAku yang punya tempat ini.โ€

Nindhi tak langsung merespons.

Alih-alih jawaban, isi kepalanya justru diguyur lebih banyak pertanyaan.

Namun, yang ia suarakan ialah satu-satunya yang berdengung paling kencang. Sebongkah kepastian. Kronologi sesungguhnya. โ€œSejak kapan?โ€

Ben sadar benar. Pertanyaan ini menariknya dari bayang-bayang. Menampakkan diri adalah risiko terbesar yang pernah diambilnya. Anomali yang mengancam protokol amannya. โ€œSejak dulu.โ€ Jakunnya bergerak seiring ludah yang ditenggak. โ€œLima tahun lalu, aku jadi pemilik resminya. Sebelumnya ini punya ayahku.โ€

Nindhi tak berupaya membungkam mulut. โ€œMemastikan saja โ€ฆ.โ€ Perempuan itu menjilat bibir. โ€œApa kamu sebetulnya sudah kenal aku sebelum kita transaksi?โ€

Ini dia. Satu pertanyaan, dengan hanya dua opsi jawaban. Keduanya merupakan penentu nasib Ben. Terdengar seperti: apakah dirinya masih punya kesempatan beredar dengan menggabungkan orbit pada Nin dan Dhi, ataukah harus terlempar keluar dari semua lintasan itu. All or nothing.

โ€œYa.โ€ย 

Nindhi berusaha merogoh ingatan rapuhnya. Tidak pernah ia biasakan memorinya menyimpan hal-hal remeh. Wajah-wajah jauh, nama-nama luruh. Dari segelintir yang bisa dikorek, tidak satu pun Ben ia kenal selain Ben yang bertandang setiap malam Kamis.

Ditatapnya Ben lebih lama.

Sebelum kembali ia tanggalkan arloji. Menepikan tasnya ke sudut meja, melipat tangan, menopang dagu. Tatapan itu dibayangi ragu sekaligus penasaran.

โ€œCoba, Ben. Kali ini, biar kudengar kamu yang mendongeng.โ€

Ben menegakkan duduknya. โ€œKamu punya banyak waktu?โ€

โ€œIni bukan malam Kamis. Tetapi ini malam yang kusisakan khusus buat diri sendiri. Dongenganmu itu, kuanggap demi ketenangan hidupku.โ€

Benar, sudah waktunya Ben jujur. Lisan itu, akhirnya mulai bertutur. Jam di dinding kafe, dalam arloji Nindhita, ikut berputar mundur.

Ke lima bulan lalu. Kala dunia disadarinya tempat yang sempit bagi mereka yang tak saling mencari. Dalam sebuah bar privat penuh aroma cerutu dan rencana ekspansi bisnis berkontaminasi ego lelaki.

Sebuah potret dalam layar digital berpindah tangan.

โ€œNamanya Nin. Pelacur kelas atas.โ€ Klien Ben menyeringai. Sang investor yang mengincar tanda tangannya. โ€œGue bayarin! Anggap ini signing bonus buat kesepakatan. Gue tahu lo kaku, tetapi tetep butuh penyaluran. Mahal, Bos. Tetapi cocok sama otak Jerman lo yang skeptis.โ€

Ben memutar bola mata malas. Sebelum wajah itu memenuhi ruang pandangnya, hingga dunianya rekah dan retak dalam satu waktu. Itu wajah yang sama dengan yang dibingkainya dalam memori.

Perempuan itu akhirnya ia temui. Ben memilih persona pria yang penuh murka pada pemerintah. Sengaja menciptakan badai agar tiada ruang bagi kerinduan di balik bilik jiwa. Agar Ben dikenal sebagai klien yang mudah ditangani karena hatinya sedang sibuk membenci dunia, bukannya mencinta.

Ke dua tahun lalu. Sewaktu kafe itu baru bersalin rupa. Dinding digital bersulamkan hujan imitasi itu dipesannya langsung dari arsitek Prancis. Biar hujan itu abadi. Tidak perlu mereka bergantung lagi pada derai presipitasi yang momental.

Sore itu, perempuan yang sama berdiri di ambang pintu. Matanya menancap lurus pada layar itu. Bersembulan binar yang memantul-mantulkan cahaya.

โ€œOh, ini hujan!โ€ gumamnya cerah.

Senyum pertama perempuan itu menulari Ben. Kerontang di dalam hatinya terasa diguyur.

Ke sepuluh tahun lalu. Titik nol. Di sinilah benih itu tertanam. Ben muda dengan aksen Bahasa Indonesia yang masih kaku, dan perempuan mahasiswi dengan tatapan yang lebih luas dari buku-buku di tas kelabu.

โ€œKenapa kafe ini namanya Regen? Hujan? Atau Regen untuk regenerasi?โ€

Dari balik meja kasir, senyum Ben terkulum. Itu pertanyaan kepo, ia tahu. Dibiarkannya seorang waiter berkhotbah soal filosofi berkat yang jatuh dari langit.

Namun, perempuan itu menggeleng, tak puas. Dilontarkannya pernyataan dan pertanyaan yang akan menghantui Ben selama beberapa waktu kemudian.

โ€œHujan itu kan, musiman. Datang cuma buat mengingatkan kita tentang kehilangan waktu berhenti. Kenapa enggak cari yang lebih abadi? Amerta, misalnya?โ€

Senyum Ben pudar. Digantikan dengan otaknya yang dipaksa berputar. Baru saja ia bertemu satu-satunya orang yang berani menantang konsep waktu.

Begitulah takdir menggulung cerita mereka secara terbalik. Sampai denting piano mengembalikan gulungan itu pada hamparan masa yang berputar normal, di meja nomor dua belas.

โ€œSepuluh tahun, Ben?โ€ Nada suara Nindhi telah menggambarkan keletihannya. โ€œKamu habiskan sepuluh tahun buat membuktikan hujan bisa abadi?โ€

Ben menggeleng. โ€œHujan memang musiman, Nin. Kamu benar. Tetapi aku, ke kamu, enggak.โ€

Bahkan oksigen yang Nindhi hirup kini terasa memiliki massa.

Kemarahan Ben pada negara, maki-makian tentang babi berdasi, hingga bonus super tinggi yang selalu ia terima, semuanya hanyalah cara Ben untuk mencintainya tanpa perlu melukai harga dirinya yang tersisa. Ben menyewa waktunya, agar tiada orang lain yang bisa merusak fragmen ingatan yang ia puja.

โ€œDongengmu bagus, Ben. Sedih, bangsat, tetapi bagus.โ€ Nindhi tersenyum pahit. Ditegakkannya punggung. Matanya meringkus Ben lurus-lurus. โ€œSayang, aku bukan mahasiswi sepuluh tahun lalu. Aku Nin. Dan, Nin tidak tahu cara mencintai transaksi.โ€

Bibir Ben mengukir kurva pertemuan antara kesedihan sekaligus kelegaan. Garis finisnya sudah di depan mata.

โ€œKalau begitu, biar Kamis nanti jadi transaksi terakhir kita, Nindhi.โ€ Ben mencondongkan diri ke pusat meja. โ€œBerhenti jadi Nin. Kubayar kamu, dengan seluruh sisa waktuku.โ€

Jakarta mungkin masih jadi tumpukan rongsok yang digosok agar bersinar. Babi-babi berdasi masih terus bebas berkitar.

Namun, di meja nomor dua belas, dalam bayang-bayang hujan imitasi yang akhirnya bertemu pemilik aslinya, takdir berhenti memutar mundur. โ‹† ึดึถึธ เน‹๐“‚ƒ

๐™๐™„๐™‰

โœŽ๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น

970 words
Fiksi ini ditulis untuk Dreรกmland dengan prompt: โ€˜Love in Reverseโ€™
๐˜™๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ: ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ด๐˜ฆ; ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ข ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ.

Tinggalkan Balasan