๐ ๐ฌ๐ก๐จ๐ซ๐ญ ๐๐๐ซ๐ฎ๐ญ๐จโข๏ธ ๐๐๐ง๐๐ข๐๐ญ๐ข๐จ๐ง
โ ๏ธ ๐๐ช๐ด๐ค๐ญ๐ข๐ช๐ฎ๐ฆ๐ณ: ๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ, ๐๐ฆ๐ซ๐ช, ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐๐ข๐ณ๐ถ๐ต๐ฐโข๏ธ ๐ถ๐ฏ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ต๐ฐ ๐๐ข๐ด๐ข๐ด๐ฉ๐ช ๐๐ช๐ด๐ฉ๐ช๐ฎ๐ฐ๐ต๐ฐ. ๐ ๐ฅ๐ฐ๐ฏ’๐ต ๐ฐ๐ธ๐ฏ ๐ข๐ฏ๐บ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฎ; ๐ฆ๐น๐ค๐ฆ๐ฑ๐ต ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ฐ๐ณ๐ช๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ ๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐บ, ๐ธ๐ณ๐ช๐ต๐ช๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ต๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฅ ๐ฉ๐ฆ๐ณ๐ฆ.
.
.
๐ฉ๐จ๐ฎ๐ฐ ๐ป๐ฌ๐ต๐ป๐ฌ๐ต, ๐ฏ๐๐ผ๐ฎ๐จ ๐ต๐ฌ๐ฑ๐ฐ ๐ฐ๐จ๐ณ๐จ๐ฏ sebongkah variabel tetap. Satu-satunya angka yang (seharusnya) takkan pernah berubah dalam persamaan hidupnya yang fluktuatif.
Namun, apa itu yang seharusnya dan tak harus? Sebab ada perang yang datang mengempas. Dan, Semesta memutuskan menghapus angka itu begitu saja. Meninggalkan Tenten dengan sisa perhitungan yang tak menuai hasil. Selain nol, lagi. Kali ini, barangkali nol yang mutlak.
โ๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น
Perempuan bersurai cepol dua mendongak. Untuk beberapa lama, mata itu tak sekalipun berkedip. Deretan gulungan di rak paling atas menyerbunya dengan segerombolan memori kolektif.
Ingatan perdana membawanya mundur pada ujian pertamanya. Ujian yang ia berikan pada dirinya sendiri: Menjadi Tsunade.
Telah ia hitung segalanya. Mempelajari anatomi tubuh manusia seolah raga ialah sewujud peta navigasi. Dihafalkannya letak saraf, di mana aliran chakra harus ditekan untuk menutup luka. Persamaannya sederhana: pengetahuan + kontrol chakra = kesembuhan.
Sayangnya, tangan Tenten di kala memegang pisau bedah justru terasa asing. Chakra menolak meliuk dalam intensitas dan titik tuju yang diprediksi. Angka di kepalanya tidak sinkron dengan detak jantung pasien simulasi.
Itulah nol pertama dalam hidupnya. Dunia menyodorkan fakta gamblang ke hadapan mata: ๐๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ช๐ข.
Lalu, datanglah ujian Chunin, di bawah langit berangin.
Lawannya adalah Temari dari Sunagakure. Jarak 15 meter, kecepatan angin 5 knot ke arah barat daya, berat kunai 400 gram.
Maka, Tenten tahu persis, kapan bilah kunainya bakal mengecupi sasaran hanya dari suara gesekan logam dengan udara. Irama itu pun, telah dihafalnya luar kepala. Bagaimana jemarinya harus menekan lilitan kain di gagang pedang. Atau, bagaimana napasnya harus tertahan tepat pada puncak lompatan, agar busur panahnya tak melenceng semilimeter pun dari titik tujuan.
Namun, saat Temari mengayunkan kipasnya, segala perhitungan itu seketika buyar. Tenten bukan cuma kalah bertarung. Shinobi itu kehilangan kendali atas dunia. Senjata yang tersimpan setelaten mungkin dalam gulungan, tiba-tiba menjelma besi tua tak berdaya, pasal dipecundangi oleh embusan Sang Angin.
Memang, ada hal-hal di Semesta ini, yang tidak peduli. Seberapa keras kamu berlatih untuk menjadi hamba akurasi. Senantiasa ada kekuatan yang cukup besar untuk sekadar menyapu bersih seluruh usaha. Dan, takkan disisakannya apa-apa. Selain tekad untuk berpegang pada asa yang mungkin tidak sebebal baja.
Sampai kemudian, datanglah perang dunia keempat. Tatkala dalam kuasanya terjejalkan, senjata legendaris Bashosen. Beban yang menghisap nyawanya sendiri. Yang menimpuki kepalanya dalam kesadaran yang lagi-lagi. Bahwa, seberapa pun tajam senjata itu terasah, tetap tidak ‘kan sanggup ia memotong takdir, yang berkenan menjemput Neji.
โ๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น
Selepas perang, Konoha berubah jadi desa yang gemar bersajak.
Orang-orang melayat dengan melukis metafora. Mereka bungkus kehilangan dalam kiasan daun gugur yang menyembulkan tunas baru. Seolah kesedihan bisa menjadi lebih ringan, jikalau diberi majas nan indah dari lisan para pujangga.
Tenten mendengarkan semua puisi itu dari balik etalase toko. Besi-besi tua yang berhasil ia susun dari puing-puing reruntuhan asa, berdasarkan berat dan kelengkungan. Sekalipun kadangkala masih berbau kenangan. Sekalipun rasanya bagai menjaga museum yang lambat laun akan mulai ditenggelamkan zaman.
Tangannya masih menghafal cara memilah. Kunai untuk menikam, senbon untuk melumpuhkan, fuuma shuriken untuk jarak lebih jauh dari yang ingin dijangkau. Memori otot, orang-orang berucap. Akan tetapi, tiada kategori untuk kehilangan yang bentuknya seperti ini: seseorang yang hadir setiap hari, hingga tubuh pun melupa cara bergerak tanpa diawasi.
Sore-sore, pada naungan kanopi pohon tua di belakang sana, Tenten ingat sosok dan peristiwa itu, sebagaimana ia merangkum cuaca kemarin petang. Rasanya di kulit lembab, tetapi hangat. Hangat yang meresap.
Bayang-bayang Neji selalu duduk lebih dahulu. Dibersihkannya pelindung dahi dalam gerakan yang sama setiap kali, bagai sedang mengusir sesuatu yang tidak terlihat. Tenten pernah bertanya kenapa ia tidak sekalian melepasnya saja kalau sudah selesai latihan.
โKarena melepas dan menyimpan itu dua hal berbeda,โ sahut Neji. Enggan pula ia pindahkan tatap dari kainnya.
Tenten duduk di sampingnya, meregangkan pergelangan tangan. โKau sedang bicara soal pelindung, atau yang lainnya?โ
Neji tidak langsung menjawab. Pemuda Hyuuga meletakkan pelindung itu di pangkuannya. Sementara matanya kini mematut lapangan latihan yang sudah melompong. โTadi kau kelihatan marah waktu melempar.โ
Tenten mengangkat pundaknya, ringan. โToh, semua lemparan kena.โ
โYa.โ Neji bersandar pada batang pohon. Atensi putihnya terlempar pada ruang kosong. โItu yang mengkhawatirkan.โ
Angin menyelinapkan diri. Menitip liukan daun gugur di antara keduanya. Di atas sana, gemerasak dansa bayu yang berduet dengan ranting pohon cokelat menguasai udara.
โNeji.โ Tenten memeluk lutut. Jemarinya memagut sepotong ranting kecil, perlahan mengguratkannya pada wajah tanah. โPercayakah kau, ada hal-hal yang memang tidak bisa diubah?โ
Untuk ukuran pertanyaan yang terdengar sederhana bagi seorang Neji yang genius, durasi berpikirnya cukup lama. โAku percaya ada hal-hal yang kita kira tak bisa diubah. Bedanya tipis. Tetapi, di sana tempatnya semua yang penting.โ
Kerut terukir di hidung Tenten. โItu jawaban orang yang belum pernah terjebak.โ
โAtau, jawaban orang yang pernah terjebak, tetapi memilih tetap di dalam.โ Neji mendongak. Helai rambutnya yang lurus hitam jatuh anggun di pundak. โSangkar itu nyata. Hanya saja, aku curiga pintunya selalu terbuka. Kita yang menolak pergi. Mungkin, karena di dalamnya ada hal-hal yang kita cintai.โ
Tenten tidak sanggup mengeluarkan timpalan.
Jauh di bawah sana, pada sela akar pohon yang mencengkeram tanah, seekor semut berjalan memanggul remah makanan. Ukurannya, tiga kali lipat tubuh si semut.
โ๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น๏น
Tokonya tutup lebih awal hari ini.
Tenten biarkan dingin lantai memagut bokongnya. Punggung menumpu pada rak paling bawah. Sedang di tangannya, tersemat kunai lama. Bukan miliknya, tetapi ia tahu kepunyaan siapa. Gagangnya sudah aus di satu sisi. Bekas ibu jari yang menekan kelewat keras kala berkonsentrasi.
Kebiasaan buruk yang tidak pernah Tenten koreksi dari sosok itu.
Dari luar, terdengar seseorang tertawa. Suara itu memantul di antara tembok-tembok gang, kemudian lindap disapu jarak. Tenten memejamkan matanya.
Belum mampu ia menentukan apakah ini terasa seperti sangkar, ataukah bagai pintu yang memang sejak dahulu telah terbuka. Dengan dirinya sendiri yang memilih berdiri di ambangnya. Tidak masuk, tidak pula keluar. Hanya bertahan di antara, sembari menggenggam gagang menuju ruang, yang ia tahu sudah tak lagi berpenghuni.
Tangannya tidak lagi dilanda tremor.
Sayang, justru itu yang membuatnya sedih.
Semesta telah menghapus variabelnya. Persamaan itu masih berjalan. Dan, Tenten baru menyadari. Selama ini, tidak pernah ia mencari hasil. Tenten hanya tidak ingin; berhenti berhitung.
Variabel Tetap
