Telah kulabuhkan nestapa itu
di penghujung rembang
pada bawah dahan trembesi tua
yang merenta dalam kesunyian
Akar-akarnya mencengkeram tanah
seumpama jemari yang enggan mengurai
sedang bayu mendesirkan epos luka
di langit saga yang terbengkalai.
Dahulu, mega pernah menderai
tangisnya, meluruhkan ratap sayup
lewat gerimis yang diresapi tanah
Namun, betapa pun hujan berulang
mengguyur, pijakan ini tetap dipeluk
lembab oleh nestari silam
Jejak-jejak yang dahulu nyata,
kini sekadar biar dan membalam,
mengendap dalam tanah
yang enggan menghapusnya.
Di tengah sunyi yang melarut,
terdengar langkah samar
atau barangkali hanya gaung suara
yang masih enggan pudar
Kenangan berpendar seperti pijar
cahaya, merayapi dinding-dinding
yang mengelupas dan ambyar
Pada batu-batu yang rapuh,
waktu telah menggoreskan erosi rindu
membiarkan segala yang tersisa hanya
serpih yang nyaris tak bernyawa.
Di antara reruntuhan tembok
yang reyot dan ilalang
yang lunglai, masih tersemat jua
sunyi sabdamu yang dahulu:
“Apa-apa yang lapuk tiada
serta-merta mekar kembali.”
Aku melangkah surut, meninggalkan
siluet yang kian larut
dalam bayang perdu; menanggalkan
segala yang tak pernah satu.
Dan, dalam gulita yang mengulur
perlahan, kubisikkan lirih
serangkai puisi yang
mengamini dan menjadi sugesti:
“Segala yang patah, biarlah runtuh
Segala yang pecah, biarlah luruh
Engkau yang indah …, biarlah tak usah kusentuh.”
