ANGIN TIMUR MENGUSAP layar nan lapuk. Memperdengarkan gumam yang tak kuasa kita terjemahkan dalam bahasa apa pun.
Figurmu menjulang di bawah minimnya cahaya, menjelma siluet yang diukir dari tinta waktu.
“Sudah sejauh ini, kau masih ragu?” Suaraku merambati udara yang dipelintir garam dan temaram.
Kau tak menjawab. Hanya matamulah mungkin satu-satunya yang bernyawa. Menatap horizon dengan pupil memeluk kehampaan sidereal. Mungkin engkau tengah bertanya, apakah di sana … di tepian perjalanan, terdapat jawaban yang kaunanti-nantikan selama ini?
Cadik itu bergetar sekali lagi. Serat-talinya telah kita kendurkan, kayunya sudah kita lepaskan dari keterikatan. Sekumpulan biota laut berenang di sekelilingnya. Mereka seolah-olah hendak memberikan upacara perpisahan yang tidak kita minta.
“Jika kita terus berlayar …,” akhirnya engkau bersuara, perlahan, “…, apa yang akan kita temukan?”
“Transisi,” aku menyahut. “Atau, kemungkinan-kemungkinan.”
“Atau barangkali sekadar kehampaan,” sambarmu. Namun, suara itu dingin.
Lidahku gatal, ingin mengajukan sanggahan. Mau aku berkata, teorinya bilang setiap jejak impas kapal kita adalah parabasis pada naskah dunia. Bahwa segenap belokan arus ialah peta yang menyimpan arkeologi perjalanan manusia.
Akan tetapi, kutahu, laut tidak menyimpan sejarah. Logikaku sendiri meragukannya. Aku lebih percaya, laut hanya memahami siklus.
Ia menerima, meremajakan, mengeliminasi.
Dan, aku tidak punya bukti untuk memvalidasi keyakinanku.
Sebab kita adalah fragmen kecil dalam proses, yang terkadang justru tidak membutuhkan campur tangan kita sendiri.
Layar kembali mengejang. Angin berubah menjadi helaan panjang. Lautan seakan-akan menarik napas terakhir, sebelum membawa kita melintas ke apa pun yang menanti di seberang.
Aku mengangkat bahu dan menegaskan, “Kita sudah melepaskan cadik.”
Kendati bibirmu terbuka, tiada kata yang berhak tersuarakan.
Karena memang kautahu aku benar: kita sudah melepaskan cadik.
Telah kita putus serangkaian koneksi dengan sesuatu yang eksistensial. Kita pun sudah memilih untuk terombang-ambing dalam probabilitas kosmis; membiarkan koordinat kita ditentukan oleh keacakan fatalistik.
Sekali lagi, aku menoleh ke belakang.
Cadik kita masih mengapung di sana. Perlahan menjauh, sesekali berputar dan beralur, mengikuti pusaran kecil yang dibentuk arus. Bagai ingatan yang pelan-pelan kehilangan titik rujukan. Seperti sisa-sisa peradaban yang menolak lenyap, tetapi juga sudah tak lagi punya tempat di lautan yang terus bergerak.
Layar mengembang. Ombak menarik lunas.
Kita berlayar menuju Yang Tak Diketahui.
Karena laut tidak ingin peduli. Karena langit tidak sudi memberikan jawaban. Karena realitas adalah entitas entropik yang takkan menanti kita memutuskan.
𝐾𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎𝘩 𝑚𝑒𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑑𝑖𝑘.
Dan, karena itu, kita tak lagi memiliki jalan kembali. Satu-satunya opsi tersisa ialah mengarungi segenap perjalanan. Sampai akhir. Sampai semua berakhir
