Hariku Berbadai

HARIKU BERBADAI, TETAPI TIADA pekik yang menyalak-nyalak atau memekakkan telinga. Hanya kedap-kedip mata kilat yang memusingkan jemala. Juga: geram gemuruh halus menyerupai desah laut yang dirahasiakan Bumi, dari langit, dan dari segala mata yang menaksir ketenangan pada wajah-wajah manusia.

Aku melangkah dalam tubuhku sendiri, ibarat pertapa yang mengembara di biara renta tanpa pintu kembali. Dunia menyaru altar raksasa. Ia taruh dagingku di atasnya, menuntutku menari dalam arakan kewajiban, menyiramiku dengan asap dupa dari ambisi yang terbakar dan bahkan bukan punyaku.

Namun, tak seorang pun tahu: aku sesungguhnya seekor angsa. Di atas danau eksistensial, aku meluncur bagai harapan yang tak menyentuh darat. Leherku lengkung laksana tanda tanya, sayapku terlipat rapat bagaikan gulungan kitab sastra rahasia. Padahal di bawah permukaan, kakiku mengayuh nyaris putus urat, menendang bayang-bayang hingga remuk, menyibak air yang tak pernah memberi tahu siapa sebenarnya yang sedang nyaris tenggelam.

Demikianlah bila kita amfibi; hidup di antara dua dunia, yang riuh berbunyi juga yang memilih bersembunyi. Yang pertama menyuguhkan jiwa pada dunia serupa piala kaca nan utuh, gemerlap, tak bernoda. Yang kedua menggantungkan atma di langit-langit pribadi, bagai pendosa yang dihukum oleh pikirannya sendiri; diadili bukan karena kesalahan, melainkan karena tak bisa terus-menerus bahagia.

Di atas, aku adalah saktah: jeda dalam simfoni-simfoni malam. Di bawah, akulah lonceng tua: nyaring tetapi tak lagi dipedulikan.

Malam menyulamkan bayang-bayang ke dalam kelopak cahaya. Jalan-jalan dipenuhi wajah, tetapi tak satu pun menyimpan mata air yang kuharap menuntaskan dahaga. Semuanya cermin retak dari harap-harap palsu yang dipoles zaman dengan serpihan ilusi. Dunia meminta aku tampil, menjadi, melanjutkan, dengan panggung ini, yang tak mengenal babak rehat.

Setiap tanya “Apa kabar?” ialah dialog usang yang diulang dengan skrip sama. Setiap jawab “Baik” tak ubahnya reruntuhan puisi yang kerap kutulis dengan air mata darah. Setiap senyum berupa upacara sunyi dari perang yang tak diumumkan.

Kehidupan telah menjelma orkestra nan kacau, di mana setiap nadanya adalah empas kerakal yang berserak dan dikocok-kocok dalam wadah hati. Di momen-momen setengah waras, kukumpulkan satu per satu, dalam upaya menatanya menjadi melodi, tetapi tetap saja yang diperdengarkan ialah sumbang. Tak peduli berapa kali menenun ritme dengan benang doa dan sabda mendiang ibu, badai menyusup jua, menyuarakan gaung yang memporakporandakan rumah di dalamku.

Rumah itu kini menjadi labirin. Dindingnya tidak dari batu, melainkan cicilan, tenggat, ekspektasi, dan mayat dari lika-liku luka-luka, yang tidak sempat kukuburkan. Aku berputar di dalamnya tanpa seorang pun konduktor, di mana setiap ornamenku berbicara dalam bahasa masing-masing, menciptakan harmoni palsu yang memusingkan kepala. Kerajaan-kerajaan iblis merekah dalam dalam dada. Tiap emosi adalah rajanya, tiap pikiran pemberontaknya. Terkadang mereka berdamai, lebih sering mereka saling menebas. Sedang, akulah penjaga gerbang yang mulai kehilangan kunci.

Setiap pagi adalah medan perang yang dibungkus rutinitas. Secangkir teh dan kopi tidak lagi untuk menenangkan, melainkan hanya ilusi agar tanganku tetap sibuk, biar tak digemetari ketakutan akan diri sendiri. Kayuhan langkah menuju meja kerja menjelma prosesi ibadah kepada dewa-dewa tak terlihat yang tidak kuimani; separuh keterpaksaan, separuh ketakutan.

Terkadang, iri rasanya aku pada lumut. Mereka memekarkan hidup di atas batu tanpa perlu menjelaskan siapa dirinya. Lain waktu kucemburui burung hantu, sang penjaga gulita yang tidak pernah perlu dipaksa tersenyum. Lebih sering aku mendambakan jadi bayangan. Tak perlu dilihat benar-benar, tetapi tetap setia memanuti cahaya.

Pada waktu-waktu sunyi, ingin kulipat jiwaku dalam kendi tembaga. Penutupnya akan kubuka di kemudian hari, dengan harapan menjumpakan isinya telah menguap. Di dalamnya kusembunyikan luka, nama yang kucintai, tawa-tawa yang kulolongkan paksa, agar dunia tak mencurigai retakan yang mulai menganga, doa-doa yang tak pernah sempat dilafalkan, serta rengekan-rengekan pada Ibu Bumi, permintaan berulangku agar aku dikembalikan ke perut-Nya.

Sayang, bukan seperti itulah cara kerja sang kendi. Semakin banyak yang ditanam, semakin banyak yang beradukan. Dan, tatkala aku membukanya, segalanya terfermentasi: menjadi badai itu. Badai itulah yang dilahirkannya. Angkara jiwa yang hadir dengan mahkota pedang dan gaun berdarah. Setiap lidah kilatnya membelah aku, menjadi serpihan-serpihan terluka, terlupa, terserak, dan tersaruk.

Lantas, hariku kembali berbadai, tetapi tiada pekik yang menyalak-nyalak atau memekakkan telinga. Hanya kedap-kedip mata kilat yang memusingkan jemala. Juga: geram gemuruh halus menyerupai desah laut yang dirahasiakan Bumi, dari langit, dan dari segala mata yang menaksir ketenangan pada wajah-wajah manusia.

Tinggalkan komentar