La Beauté Empoisonnée

I.

Ia lahir dari sehelai kelam yang
tak sempat dirapikan,
juga secarik malam yang
tak pernah dirapalkan.

Tumbuhnya, pada simpang
antara desir waktu yang menolak berhenti
juga bait-bait semusim yang telah lama mati.

Setiap kelopaknya, menitiskan darah
yang wangi,
seolah dunia,
belajar mencinta,
lewat kepedihan hakiki.

Maka, coba tanganmu pun
bergerak mengusap udara
mengais makna;
apakah kecantikan memang mesti luka
agar dapat dipercaya lakunya?

II.

Lantas, sang saga yang direkah pagi,
menyicip cahaya laksana meneguk kutuk:
pelan, panas, memabukkan
sedang sutranya,
memilin kurva,
untuk lantas direguk busuk.

Dalam kebisuan waktu, ia rengkuh rahasia:

bahwa merahnya, ialah cinta yang malang,
sekaligus ingatan yang menolak hilang.

bahwa marahnya, ialah rindu yang berkalang
sekaligus ingar yang tak ingin hengkang.

bahwa murahnya, ialah pilu yang meradang
sekaligus ingkar yang memberontak ditentang.

III.

Setiap sabda itu, mencuat dari tangkai,
menyayat tangan sesiapa yang tak pandai,
mengingatkan: bahwa lembut tak selalu selamat,
dan wangi bisa saja berasal dari sekarat.

Olfaktori bersujud di hadapannya
sedang ia tertawa, angkuh, kukuh
seolah mengerti,
aroma, memang bisa mencipta mitos.

Dan, engkau tak sadar-sadar,
sampai kemudian ujung jarimu,
memuntahkan apa yang menyerupai pengakuan:

setetes saga yang berbeda,
bukti bahwa ia pernah menjadi doa,
sebelum menjelma bahaya
sementara engkaulah yang terjerat buta
kalap mencicipi suka berujung luka.

Jarimu menangis, hatimu meringis.
sedang di antara sunyi itu,
ia tetap kembali memekarkan diri,
dari sehelai kelam yang
tak sempat dirapikan,
juga secarik malam yang
tak pernah dirapalkan. 

𝐎𝐤𝐭𝐨𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟓

(Tantangan menulis puisi dengan tema: 𝖬͟𝖺͟𝗐͟𝖺͟𝗋͟ 𝖬͟𝖾͟𝗋͟𝖺͟𝗁 )

Tinggalkan komentar