Hibrida

Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra.

Bukan berarti kau munafik. Kutahu; kau sungguh tak berpura-pura. Ketulusanmu justru terletak pada keberanian membiarkan dua kutub ekstrem itu membakar jantung secara bersamaan, tanpa sekali pun memalingkan muka.

Engkau mencintai banyak orang. Cintamu, ialah sealiran filantropi tanpa penuras, yang menyerap segala lara dan tawa dunia ke dalam sumsum tulang. Engkau mencinta sebab tak dapat menghentikan arusnya. Dapat kaulihat keindahan dalam sisa-sisa kehancuran manusia. Engkau memuja detak jantung yang repih dan harapan-harapan kecil yang membiak. Bagimu, setiap orang adalah kitab suci yang ditulis dengan tinta cintaNya. Adalah tugasmu untuk membaca mereka semua dalam liturgi harian, dengan penuh kekhidmatan. Kutukan yang mekar dari empati nan absolut. Engkau mencintai hingga mendoakan mereka semua hidup dalam linang cahaya. Engkau mencinta hingga kadangkala kehilangan dirimu sendiri di dalam arus dunia. Sebab, yang kausaksikan bukan lagi kau dan mereka. Yang ada hanyalah satu kesatuan ilahiah, terfragmentasi dalam banyak jiwa.

Engkau membenci banyak orang. Dan, di sinilah keterusterangannya, di mana engkau tidak sedikit pun menampiknya. Kebencian yang nihil oleh bumbu kesumat. Bentuk dukacita mendalam atas potensi manusia yang disia-siakan. Engkau membenci banalitas yang membunuh imajinasi, kekejaman yang dianggap lumrah, dan cara manusia dengan riang gembira menghancurkan satu sama lain. Kebencianmu sewujud mekanisme pertahanan dari jiwa yang sudah terlalu sering dikoyak-koyak elegi. Kaubenci dunia karena dunia tak pernah cukup layak untuk cinta yang kaumiliki. Jenis kebencian yang berakar dari kemarahan seorang ibu kala melihat anaknya berlari menuju jurang; lahirnya dari keputusasaan terhadap pilihan yang dirasa telah jauh dari jalan semestinya.

Engkau …

… ialah saksi bisu dari drama kosmik yang tak berkesudahan. Berdiri di tengah-tengah badai, dengan tangan terbentang, tetapi hati terguncang. Segala macam jubahmu tersingkap. Kau menelanjangi diri di hadapan angin. Membiarkan setiap rasa cinta dan setiap percikan benci mencabik kulit, hingga menyentuh hakikat yang paling esensial.

Karena: realitas ini memang sebuah lelucon yang terlalu pahit untuk ditelan tanpa sedikit sinisme. Dan, engkau coba bertahan hidup di dalam sebuah dunia yang terlalu sempit untuk kapasitas rasanya yang tak bertepi.

Engkau, hibrida dari cinta yang terbuka, dan benci yang berluka. Sehimpun cahaya dan gulita yang hidup dan redup berselang-seling, sampai nanti, sampai mati.

Tinggalkan komentar