Aksara-aksara duniawi malam itu terlampau angkuh. Maka, ia pun jatuh.
Tiada iringan tabuh, pun wiru kain menyibak teduh. Hanya bertemankan serpihan gemintang, rontok dari ceruk telapak langit, untuk kemudian mendarat telak bersama jejaknya, pada pelataran dada yang gersang.
Tiap-tiap yang didatangi memeluk malamnya sendiri. Ada yang jelaga tenang, ada yang hancur lebur sehabis badai menerjang.
Langkah perempuan itu berdebur. Menghantar debar pada dada yang disinggahi. Memahat alur pada jiwa-jiwa yang mentah dan masih butuh ditatah.
𝑆𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑛𝑎𝑚𝑎—.ᐣ
Perempuan itu menggeleng. Kurungan sempit seperti identitas tak layak menampung luasnya. Kehadirannya sendiri selaksana saur mantra. Merangkak, merayap-rayap, menyusup ke sela rusuk muda.
Duduklah ia di sana, menatap tanpa pernah menetap. Menyembul seukiran senyum yang urung lesap, pada wajahnya yang ranum dari balik tudung tersingkap.
Kala rembulan di balik mata sudah sempurna matinya, jemarinya mulai menjentik. Setitik. Demi setitik. Kunang-kunang tersesat di telunjuk, untuk akhirnya bersua jalan pulang ke pelukan napas.
Kemudian, tubuhnya membungkuk. Mata itu penuh cinta sekaligus iba. Betapa mereka terlalu letih berupaya. Mereka yang punggungnya memikul geramang sepi, beban-beban yang lebih sering tidak menjumpai jalannya, lebih kerap ditimbun menjadi nekropolia.
Dan, terangkatlah jemarinya. Mengelus ubun-ubun yang dituakan dunia.
Helai-helai rambutnya jatuh merupa tirai. Dikecupnya dahi tempat akal dibutakan masa. Dikecupnya pipi tempat realita menampar dan menyalangkan mata. Dikecupnya bibir tempat dibisukannya suara-suara. Dikecupnya dada, tempat segala amuk badai malang melintang dan memporak-porandakan jiwa.
Namun, ia tak mengecup dengan bibir pun lidahnya. Dipinjamnya ranum milik senja yang khidmat mengulum ujung luka.
Kecupnya membelai benih nyala di kepala. Mengetuk pintu yang lama terkunci dan tiada yang tahu eksistensinya. Sentuhannya menyemai telaten di huma dada, di antara rengkah-rengkah yang kian waktu kian menganga. Isyarat jemarinya menyentuh urat nadi harapan.
Dan, ajaib: dari tanah yang mati, mencuatlah tunas-tunas cahaya.
𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ.
Lagi, perempuan itu menggeleng. Nyala titipan Semesta; ia hanyalah penyulut yang membangkitkannya.
Begitu pijar pertama tampak berdenyut di kelopak mereka, perempuan itu merampungkan pijak. Sementara pamit hanyalah jangkar bagi sungai yang harus senantiasa mengalir. Kepergiannya semadi yang bergerak. Mengetuk pintu-pintu yang digembok dari dalam, sekadar lewat meninggalkan madat bagi ingatan yang dahaga.
Pada purnama tua, ia berhenti di tapal batas antara ada dan tiada. Menengadah. Menghitung taman cahaya yang telah ditumbuhkan dari setiap kecupnya. Rekah senyumnya tak menagih puja dan sembah. Tiap kali satu jiwa berani bernyala, langit beroleh satu bintang baru untuk ditatah.
Sedang, ia?
Kembali meluruh.
Menjadi jatuh, lagi.
Menitiskan cahaya bagi jiwa-jiwa lain, yang lupa caranya bermimpi. Menjamahi mereka dengan kerlingnya. Menciumi mahkota yang lama terpendam untuk akhirnya membuka cara baru melihat Semesta.
Beri suluh, lalu hilang. Biar yang disuluh percaya, terang itu ialah pusaka, sejak mula telah disemayamkan pada rongga milik sendiri.
Dirinya semata-mata pengingat. Lewat kecup. Untuk kuncup.
Sebelum tutup.
