Mawar itu mengkristal dari sepi yang diperah.
Kelopak-kelopaknya serupa beludru, ditenun dari sisa-sisa senja. Bukan merah yang marah atau meriah. Bukan pula merah yang rekah atau bertumpah-ruah.
Ia lumrah. Ia merah nan marwah.
Disimpannya kasih dalam saku-saku yang bisu. Untuk mendiami pucuk tangkai yang kaku. Membiar angin, hujan, dan badai berlalu. Tanpa sedikit pun merasa perlu menyerah menjadi debu.
Bahkan, sekalipun ronanya layu, tetap saja ia berminat berlagu.
Menyanyikan martabat pada udara. Pada telinga-telinga manusia. Pada ratapan anak kota. Pada jalanan yang semakin kusut seberapa kali pun coba disetrika. Melepas merdeka segala bersama wangi yang juara.
Hingga, tiada seorang pun mengusik batasan durinya, di mana mereka ‘kan buta pada tata cara menghamba, atas sajak sayat serupa hunus panah dewata.
Maka bisakah kau bersumpah? Ialah aksara liris pengingkar titik habis. Kecemerlangan nan dingin; betah bertakhta di atas singgasana sunyi, yang serbamagis. Kelak meluruhkan aku kau dan siapa-siapa, dalam jatuh cinta, yang apokalipstis.
Mawar yang Marwah
