Kunci Bersikap Bodo Amat



Sumbat telinga, tutup mata, sumpal hidung. Sekalipun kauakui, paru itu sempat sesak oleh ampas yang menguap dari asap pembakaran.

Satu anomali yang lahir dari rahim paradoks, menggandakan diri seperti Gog Magog, berkerumun di atas bangkai idealisme. Satu kebohongan melahirkan seribu pembenaran.

Manusia itu rongsokan kosmik, Sayang. Dalam batok kepala, ia tanam taman bunga, tetapi akarnya mengisap darah dari jantung yang kehausan, selangnya dicolok langsung ke aorta. Disiram darah, daripada air. Lalu heran kenapa bunganya berduri dan mekarnya perih. Ganjil. Sangat ganjil. Arsitek kehampaan yang tekun membangun tembok tinggi-tinggi, lalu meratap karena merasa terisolasi.

Logika? Uh, persetanlah. Kadangkala, ia jalang yang disewa untuk membenarkan bias. Lihat saja caranya menelan waktu. Mulut menganga lebar, melahap detik demi detik laksana rayap, untuk kemudian bersujud di kaki jam dinding, memohon ampun agar maut menunda kencan. Dibencinya cermin karena selalu berkata benar, lalu gila hormat pada bayangan yang sudah dipoles dan dipugar.

Muak itu pun mengkristal. Lantas, menajam. Bagai serpih kaca di tenggorokan. Muak pada esensi yang tumpang tindih. Muak pada sengat yang mencoba membuatmu mendidih. Garis-garis lengkung bersikeras mengaku lurus. Warna-warna keruh melantangkan kemurnian. Oh, betapa eksistensi saja sudah menjadi interupsi bagi kedamaian.

Mungkin karena ia tak ayal sebonggol lubang hitam. Mengisap cahaya, menyisakan jelaga. Di dalam tempurung kepalanya, ada badai yang tak berpusat, hanya pusaran kekosongan yang meluap-luap dan mencoba mencegat.

Sempat ‘kau tercekik oleh aromanya dari kejauhan. Bau apak dari jiwa-jiwa yang tak pernah dijemur di bawah matahari kejujuran. Manifestasi dari segala sesuatu yang tidak seharusnya ada, tetapi tetap bercokol mengotori pandangan mata. Tumor bagi kedamaian.

Namun, yang dapat kaulakukan, hanyalah: sumbat telinga, tutup mata, sumpal hidung. Ya. Sebab kalau tidak, pekiknya menembus hingga ke sumsum tulang. 

Jadi, baiklah kautanggalkan semua empati, jua atensi. Tak layak memberi debu-debu itu perasaan agung hanya karena berpijak di atas panggung. Bagai memberi oksigen bagi api yang seharusnya mati untuk menyulut rumah sendiri. Sebab segala hanya tinggal tunggu. Tunggu waktu menyapu Dunia ke lubang pembuangan itu.

Tinggalkan komentar