I.𝑜𝘩—! keningku menebar luasdalam tampung residu panasyang mendingin pada ambang napasdi kaki, sepasang insansaling bersingsutkendati mulut-mulutbersungut-sungutbersikeras, mereka pangkas—jarakmempecundangi takdirdari tatapku yang khianatlihatlah, jemari-jemari itu, Sayangsaling mengunci begitu eratnyasegenggaman pekat pengelanacoba menahan licinnya bah jua asinnya air matadengan pasir yang rapuh dan bakal segera binasadan, 𝑐𝑖ℎ—kuludahkan sebonggol merahkala lidah mereka berpetuah,tentang sebentang esok yang fanapadahal di … Lanjutkan membaca Nyala yang Tak Sanggup Kubunuh
Nyala yang Tak Sanggup Kubunuh

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.