Nyala yang Tak Sanggup Kubunuh

I.𝑜𝘩—! keningku menebar luasdalam tampung residu panasyang mendingin pada ambang napasdi kaki, sepasang insansaling bersingsutkendati mulut-mulutbersungut-sungutbersikeras, mereka pangkas—jarakmempecundangi takdirdari tatapku yang khianatlihatlah, jemari-jemari itu, Sayangsaling mengunci begitu eratnyasegenggaman pekat pengelanacoba menahan licinnya bah jua asinnya air matadengan pasir yang rapuh dan bakal segera binasadan, 𝑐𝑖ℎ—kuludahkan sebonggol merahkala lidah mereka berpetuah,tentang sebentang esok yang fanapadahal di … Lanjutkan membaca Nyala yang Tak Sanggup Kubunuh

As Above, So Below

Sebagai peziarah kosmik yang kerap alpa, aku terjaga malam ini. Sebab, pada lengkung cakrawala, sedang berlangsung sebuah tarian agung yang sejatinya tak membutuhkan saksi. Sang Guru turut menyertakan kemegahannya pada pijar Candra yang sedang meranumkan diri, hampir purnama. Terasa selaksa getaran yang merambat lamat. Energi yang memuai dengan tenang, mengizinkan nalar untuk meluruh sejenak dan … Lanjutkan membaca As Above, So Below

Mohon …

Dear, Tuhan yang Maha Indah. Penguasa yang menciptakan segala makhluk dengan rupa yang sama indah. Mohon kurniakan keindahan-Mu ke dalam carik celah semesta yang kami tarik. Pada jiwa-jiwa yang kehausan mendamba makna hidup dan cinta, mohon sematkanlah kecukupan. Pada hikayat-hikayat yang kami toreh dalam lembar harian. Pada pelupuk dan retina agar dapat kami saksi segala … Lanjutkan membaca Mohon …

Dari Kuncup yang Pasi Itu

I. Sekali waktu,sekuncup dua kuncup pagi merekah di matamumenghibahkan warna di pucuk-pucuk mentariDan, kau bersabda,“Cinta tak mengenal kekang waktu.”Lantas, brengsek manakahyang menyenandungkan lagu klasik berjudul sementaradi tepian senja yang mengungkung pundakmu?II.Barangkali, aku hanyasedang belajar membaca makna temuPada selang kalimat yang tak rampung, pada sela jemari yang melarunguntuk berpura-pura tak sengaja menggerungTak ada yang berubah, katamupadahal, … Lanjutkan membaca Dari Kuncup yang Pasi Itu

Retrograde

SEPULUH TAHUN SERUPA GARIS lengkung yang akhirnya bertemu pada satu titik koordinat di meja nomor dua belas. Sorot lampu kafe temaram menyapu dua wajah. Menghentikan sejenak laju waktu. Menjepitnya dalam dua pasang mata yang saling mengunci.

Solivagant

PEREMPUAN ITU SELALU DATANG sendirian. Mengambil tempat yang berbeda-beda dalam setiap kunjungan. Seakan masing-masing kedatangannya serupa proses meditatif untuk berkawan dengan setiap jengkal titik koordinat di ruangan. Dimulai dari sudut yang menghadap jalan raya, hingga meja kecil di samping tangga.