As Above, So Below

Sebagai peziarah kosmik yang kerap alpa, aku terjaga malam ini. Sebab, pada lengkung cakrawala, sedang berlangsung sebuah tarian agung yang sejatinya tak membutuhkan saksi. Sang Guru turut menyertakan kemegahannya pada pijar Candra yang sedang meranumkan diri, hampir purnama.

Terasa selaksa getaran yang merambat lamat. Energi yang memuai dengan tenang, mengizinkan nalar untuk meluruh sejenak dan menyerahkan kemudi pada intuisi sepenuhnya. Segala keharusan untuk menapis rasa atau menyaru luka demi terlihat digdaya di hadapan dunia seakan lebur dalam pendaran yang mahaluas.

Dua cahaya yang tak berkedip itu menjadi bukti nyata. Bahwa keperkasaan dan kelembutan pun dapat bersanding dalam satu cawan. Mereka sanggup saling mendekap tanpa ada yang merasa ditiadakan.

Sebagaimana sebuah hikayat lama yang akhirnya menemukan muara, malam ini menawarkan ketenangan yang rimbun di tengah kesenyapan yang paling bening.

Kita hanya perlu bergeming. Membiarkan harapan yang ditiupkan oleh Jupiter berkawin dengan kedamaian yang dibawa oleh Bulan dalam pelukan nan hening.

Memahat aliran baru, mengirimkan getar-getarnya, pada raga dan jiwa yang berdikari ke bola biru nan terus berpusing. As above, so below.

Tinggalkan komentar