Dari belakang teater ini, nada selomu dapat memotong damaiku. Apakah kautahu, sosokmu dalam bingkaiku justru menoreh sembilu aneh di relung kalbu? Sesuatu yang patah sekaligus tumbuh bernyanyi, bahkan kala permainanmu belum diawali, dan kau hanya mendekap instrumen itu dengan hati-hati, di bawah lampu sorot bertemankan denyut nadi.
Lantas, saat jemarimu menarikan jiwa ke atas dawai baja, gesekan liris yang begitu panjang itu akhirnya terhasilkan. Mungkin ia melelahkan bagi telinga awam. Namun, ia melelehkan dan menguapkanku hingga lebur dengan awan. Dan, kau tidak peduli. Tidak kau menoleh sama sekali pada sekoloni awam ataukah sekepul awan, seakan-akan memang kau sedang tidak bermain untuk menghibur seisi ruangan. Yang kaulakukan ialah membedah hatimu sendiri. Menyusun lembar demi lembar teori, juga kerumitan diri, ke dalam baris nada-nada yang tetap misteri.
Seringkali, ingin awanku menggulung hangat dan menghujanimu sebagai setetes sapa. Jika kapasitasku berlebih dan waktu membuatmu meranggas, bisa kaureguk hujanku demi entaskan dahaga.
Seringkali, mau aku melangkah maju. Hendak kutawarkan suaraku untuk bernyanyi menyertai alun dawaimu, sekalipun kutahu ia juga tidak seberapa merdu, dan kita takkan menghasilkan konser nan padu. Mungkin, kita bisa berhenti saja melagu, menggantinya dengan sekadar obrolan ringan tentang kemungkinan dimensi di luar sana, atau belajar mengeja rasa-rasa manusia, untuk mencairkan ketegangan di pundakmu yang lama memikul ekspektasi dunia.
Sayang, maklumat yang kautulis pada dinding-dinding pembatasmu begitu terang-terangan: tidak menerima kunjungan yang hanya membawa kekosongan atau tuntutan akan kehadiran. Kau tidak butuh sesiapa yang datang membanjirimu dengan respons cepat hanya karena cemas dilumat kesepian. Entah apa yang kautuntut, aku tak dapat membaca. Ataukah mungkin kau pun tidak mengekspektasikan apa-apa, sebab kau bahkan masih saja terbenam dalam nadamu, tak acuh ketika satu demi satu penonton beranjak dari sana.
Mulai kudengar kasak-kusuk. Orang-orang bergunjing tanpa merasa perlu menilik isi rusuk. Betapa angkuhnya kau di mata dunia. Mereka kutuk jiwamu terlampau rumit dan tidak masuk akal. Terlampau dingin dan berhati bebal. Mereka tidak pernah tahu bahwa dinding-dinding tinggi yang kaubangun serupa benteng terakhir untuk melindungi sisa-sisa kewarasan dan kapasitas energimu yang mengkal.
Oh, andai mereka sanggup melihatmu dari kacamataku, mereka ‘kan tahu betapa kau teramat mengenali pasak hati. Kau tahu persis, kapan senarmu akan putus, jika ditarik oleh jemari yang kurang teliti. Kaupilih mengencani nadamu dalam kesendirian yang nisbi, ketimbang membiarkan tangan asing masuk dan meninggalkan nada sumbang yang merusak harmoni. Begitu mandiri, begitu sadar diri. Menjadikan kehadiran orang lain terasa sekadar opsi.
Dan, aku masih di sini. Bahkan sewaktu lampu-lampu penonton dipadamkan. Kupahat diri dalam kegelapan nan pekat, memaku atensi pada sosokmu yang azimat. Menahan napas agar tidak mengusik permainanmu yang intensitasnya meningkat. Berserah pada jarak abadi ini.
Mengagumimu adalah tentang kerelaan untuk tumbuh dan patah berkali-kali secara sadar. Tengah kupandang sebuah mahakarya yang menolak ditundukkan ego kepemilikan. Kau serupa teka-teki semesta yang terlalu agung untuk digenggam tangan yang serakah. Maka, aku rida menjadi sekepul awan yang tidak bisa menurunkan hujan. Untuk lantas menguap bersama udara begitu kau selesai, tanpa pernah kautahu bahwa aku ada.
⋆ ִֶָ ๋𓂃
Mus(e)ikalmu
