Selamat Mekar

Habis gelap terbitlah terang. Mungkin akan ada gelap lagi, yang akan datang. Entah dalam wujud yang sama, entah yang berbeda. Sebagaimana rupa bulan yang tak selamanya bercahaya. Sebagaimana Bumi yang tidak senantiasa disirami matahari. Sebagaimana pasang dan surut lautan. Sebagaimana musim yang akan lagi-lagi bersemi setelah musim dingin mencekal aktivitas. Segalanya adalah siklus. Segalanya adalah keseimbangan.

Walau demikian, tidak ada yang salah dari merayakan ini. Tidak ada yang salah dari merayakan purnama, pasang, mekar ini seolah ia akan bernilai selamanya, padahal gulita, surut, dan gugur, sudah pasti akan datang lagi pada sekejapan mata berikutnya. Merayakannya tak mengurangi keindahan momentum purna. Merayakan bagaimana Candra berbinar sempurna sebagai penanda awal musim yang bersemu dan bersemi kembali bukan berarti menafikan diri dari fase lainnya.

Maka, selamat mekar rembulan-ku, oh, betapa tidak tahu malunya, mengatakan kau milikku hanya karena kau kini ditempatkan dalam gugusan bintangku. Tak lupa pula, selamat berbahagia, atas pasangnya Hindia malam ini, yang serasa tengah menari-nari memanuti tarikan tanganmu sembari menyanyikan kidung pujiannya, pada Penguasamu yang sesungguhnya..

Tinggalkan komentar