Di hadapan semesta, cara kita memandang dunia ini, bergantung pada serangkaian bingkai yang kita pasang sendiri di depan mata.
Apa yang dianggap maut oleh sang ulat, bagi nurani yang bijak, merupakan lahirnya sepasang sayap yang megah. Kita sering terpasung dalam satu sudut pandang, seolah-olah cahaya hanya datang dari matahari semata. Padahal, setiap jiwa membawa pelitanya sendiri untuk menyinari kegelapan yang mengadang.
Agungnya gunung akan tampak setitik debu bagi elang yang membubung tinggi di angkasa. Begitulah sudut padang bekerja. Segala yang dilalui, serupa permata yang berpendar beda warna, tergantung dari mana sang surya menyentuh permukaannya, dan dari sudut mana pengamat melihatnya
Di Hadapan Semesta …
