Bagaimana Jika …?

Bagaimana jika matamu sebenarnya pengkhianat nan paling fasih berdusta? Dunia ini skenografi yang catnya masih basah. Jangan sepenuhnya percaya pada tegaknya gunung. Gelombang tanah yang sedang menarik napas panjang jutaan tahun, menunggu waktu untuk kembali menjadi debu yang tergulung. Jangan seutuhnya percaya pada beningnya air. Cermin yang sedang menyembunyikan kegelapan palung dengan pantulan langit yang sama sekali bukan miliknya. Kita berjalan di atas kulit ari kenyataan yang tipis, rapuh dan—oh, celaka, hampir robek oleh massa kepura-puraaan sendiri.

Pernahkah berpikir ruang yang kauhuni ialah kotak musik yang terkunci? Kaulihat dindingg, kursi, meja, dan wajah-wajah yang kaucintai. Atom-atom di sana ruang hampa yang luasnya mengerikan. Jarak antara inti dan elektron sebagai sunyi nan tak terkendali. Otakmmu yang malas merajutnya menjadi kepadatan. Kau menyentuh kayu. Kaurasakan tolakan elektromagnetik yang keras kepala. Nyatanya, tak pernah kau sungguhan menyentuh apa pun. Kita semua pengembara yang terasing di balik lapisan tipis saraf. Meraba-rabai bayangan di dinding gua Plato sembari bersumpah bahwa itu sebonggol Matahari.

Realitas bagai selubung halusinasi yang disepakati secara kolektif. Struktur linear merupa belenggu. Maka, mari kita pecahkan urutannya. Lupakan logika dalam wujud garis lurus yang membosankan. Kebenaran sebagai lingkaran yang mabuk. Dan, Waktu? Oh, waktu-lah lelucon durjana itu. Kaulihat jarum jam berputar dan mengira masa lalu sudah mati di belakang sana. Cahaya bintang yang kaupandang berkedap-kedip malam ini adalah mayat yang baru sampai ke matamu serampung menempuhi perjalanan ribuan tahun cahaya. Kau sedang melihat hantu dan menyebutnya bimbingan malam. Masa depan mungkin sudah terjadi di dimensi yang lain. Siapa yang tahu? Kita aktor yang telat datang ke panggung, membaca dialog yang sudah basi sebelum diutarrakan.

Bagaimana jika … gravitasi itu sendiri, merupakan rasa malu bumi yang ingin menyembunyikan kita, menelan kita, di pusat intinya?

Bagaimana anddai setiap lengkung pelangi yang kita puja hanyalah jeritan cahaya yang sedang disiksa prisma udara? Dan, hijau daun itu, yang lumrah disebut jantung dunia, sebenarnya satu-satunya warna yang ditolak, dibuang, dan dilepehkan oleh klorofil karena ia tak sanggup menelannya. Kita hidup dalam sisa buangan frekuensi yang tak diinginkan Semesta, dan menyebutnya keindahan.

Bagaimana jika kata-kata yang kaubaca ini bukan hitam di atas putih atau putih di atas hitam? Bukan pula titik-titik piksel yang disusun sedemikian rupa oleh serangkaian simbol pada layar? Mereka lubang-lubang kecil menuju kekosongan yang kauberi nama arti, yang kaumaknai. Kita bangun peradaban di atas metafora yang tak senarai. Kita sebut cinta untuk aksi dan reaksi kimiawi yang bergejolak dan menggelegak. Kita sebut keadilan untuk dendam yang diberi seragam dan merasanya sebagai sesuatu yang tuntas. Kita namai diri sendiri sebagai raga dan jiwa yang sebegitu pentingnya untuk dipuja-puji di dunia yang penuh ampas.

Lihatlah ke cermin. Siapa yang menatap balik? Kaukah itu? Ataukah sepantulan foton yang memantul pada lapisan perak di balik kaca? Yang membalikkan kiri menjadi kanan, depan menjadi belakang. Tidak sungguhan bisa kita lihat wajah sendiri kecuali melalui perantara yang bisa saja berkhianat. Mungkin, diri ini pula orang asing bagi mata sendiri?

Kita pemulung persepsi. Kita pungut sampah-sampah visual dan merangkainya menjadi mahkota kebenaran. Pohon itu … apakah ‘kan tetap hijau kala tiada mata memandang? Mungkinkah ia kembali menjadi tarian atom tanpa warna; simfoni matematika yang murni tanpa perlu label dari laring manusia.

Dunia ini, serangkaian puisi yang ditulis dalam bahasa yang tak kita mengerti. Kita sibuk menghitung jumlah hurufnya saja. Kita melihat permukaan yang berkilau. Kita mengabaikan kedalaman yang bisu.

Cahaya, selubung yang menyayat kegulitaan dimensi. Suara, gangguan pada keheningan nan hakiki. Keberadaan, interupsi pada ketiadaan yang damai.

Dan …, bagaimana … jika … semua ini … hanyalah mimpi … dari sebuah kesadaran yang lebih besar? Yang sedang tertidur lelap dan akan segera terbangun. Tatkala ia terjaga, semua gedung pencakar langit akan menguap selaksana embun disentil cahaya sinar matahari. Serangkaian sejarah dan kemenangan berdarah terhapus habis bagai jejak kaki di pasir yang dijilat lidah ombak.

Kita memaknai segalanya agar kita tidak menjadi gila oleh kemegahan tak terbatas. Kita melihat agar bisa bertahan hidup dalam kotak kecil bernama identitas.

Namun, sesekali, tutup matamu. Rasakan itu. Rasakan sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan oleh jndra. Dengarkan sunyi yang tak punya frekuensi. Di sanalah, mungkin, akan menyembul sedikit remah remeh, dari apa yang sebenarnya ada. Sebelum kita kembali ditipu fajar. Sebelum kita kembali waras dan mengedap-kedip pascaterjaga.

Tinggalkan komentar