Bagi Tenten, Hyuuga Neji sebongkah variabel tetap. Satu-satunya angka yang (seharusnya) takkan pernah berubah dalam persamaan hidupnya yang fluktuatif.
Variabel Tetap
Prosa dalam berbagai genre.
Bagi Tenten, Hyuuga Neji sebongkah variabel tetap. Satu-satunya angka yang (seharusnya) takkan pernah berubah dalam persamaan hidupnya yang fluktuatif.
SEPULUH TAHUN SERUPA GARIS lengkung yang akhirnya bertemu pada satu titik koordinat di meja nomor dua belas. Sorot lampu kafe temaram menyapu dua wajah. Menghentikan sejenak laju waktu. Menjepitnya dalam dua pasang mata yang saling mengunci.
PEREMPUAN ITU SELALU DATANG sendirian. Mengambil tempat yang berbeda-beda dalam setiap kunjungan. Seakan masing-masing kedatangannya serupa proses meditatif untuk berkawan dengan setiap jengkal titik koordinat di ruangan. Dimulai dari sudut yang menghadap jalan raya, hingga meja kecil di samping tangga.
PROSESI BERSAMA BEN SENANTIASA dimulai dari dirinya menengak sebotol bir. Sementara aku mengamati. Sensualitasnya kala berdiri. Lisannya yang mulai meraungkan betapa sumpeknya negara hari ini. Seolah Ben tengah mendatangi area debat Capres, bukannya kediaman pelacur pribadi.
SEMULA, KUPIKIR SAMUDRAMU terlalu dalam. Terlalu menyeramkan. Berpotensi menenggelamkan.
Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra. Bukan berarti kau munafik. Kutahu; kau sungguh tak berpura-pura. Ketulusanmu justru terletak pada keberanian membiarkan dua kutub ekstrem itu membakar jantung secara bersamaan, tanpa sekali pun memalingkan muka.Engkau mencintai banyak orang. Cintamu, ialah … Lanjutkan membaca Kupikir Samudramu Terlalu Dalam
Duhai ..., alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara.
Duhai ..., alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara. Tak butuh lagi menakar-nakar berapa gantang gandum di lumbung tetangga, atau seberapa berkilau emas di jemari kawan lama. Tak perlu pula berebut remah di meja perjamuan. Perutmu tak lagi … Lanjutkan membaca Batinmu yang Purna
Tuhan karuniakan Semesta ini selaku kanvas yang luas. Di atasnyalah Dia bubuki aneka ragam seni-Nya. Nyanyian, musik, tarian, drama, sastra, lukisan, ukiran, potret. Gunung dan lembah. Sungai dan gurun. Langit malam yang ditaburi keping gemintang. Laut lepas yang mendeburkan ombak.
Mengalir dari budi, mencelat ke lisani, mendekam di batin orang lain. Jadi, sebagaimana fisik dan rupa dipiara agar layak dipandang, bahasa pun sepatutnya dijaga dalam sikap dan rasa yang ditimbang. Kata-kata mengandung potensi apa-apa yang mungkin luput disadari si penuang. Sebaris kalimat atau frasa tertentu pun, dapat menggedor kerapuhan, menggoyahkan keteguhan, menambah keletihan. Bisa pula … Lanjutkan membaca Berumah di Langit Ingatan
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.