Noirvarna

Tuhan karuniakan Semesta ini selaku kanvas yang luas. Di atasnyalah Dia bubuki aneka ragam seni-Nya. Nyanyian, musik, tarian, drama, sastra, lukisan, ukiran, potret. Gunung dan lembah. Sungai dan gurun. Langit malam yang ditaburi keping gemintang. Laut lepas yang mendeburkan ombak.

Sombra

SEMUA ORANG YANG MENGENALNYA sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.

Munafik

Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. “Menurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya ..., itu munafik, tidak?”

Happy New Year

SEKETIKA, TEPUK TANGAN RIUH memenuhi ruangan, dan denting gelas bergema. Tak lama setelahnya, apa yang dinanti-nantikan tiba. Dentangan lonceng dari kejauhan yang menandai pergantian tahun. Semua orang mengangkat gelas mereka, menyatu dalam satu seruan: