Kupikir Samudramu Terlalu Dalam

Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra. Bukan berarti kau munafik. Kutahu; kau sungguh tak berpura-pura. Ketulusanmu justru terletak pada keberanian membiarkan dua kutub ekstrem itu membakar jantung secara bersamaan, tanpa sekali pun memalingkan muka.Engkau mencintai banyak orang. Cintamu, ialah … Lanjutkan membaca Kupikir Samudramu Terlalu Dalam

Batinmu yang Purna

Duhai ..., alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara. Tak butuh lagi menakar-nakar berapa gantang gandum di lumbung tetangga, atau seberapa berkilau emas di jemari kawan lama. Tak perlu pula berebut remah di meja perjamuan. Perutmu tak lagi … Lanjutkan membaca Batinmu yang Purna

Noirvarna

Tuhan karuniakan Semesta ini selaku kanvas yang luas. Di atasnyalah Dia bubuki aneka ragam seni-Nya. Nyanyian, musik, tarian, drama, sastra, lukisan, ukiran, potret. Gunung dan lembah. Sungai dan gurun. Langit malam yang ditaburi keping gemintang. Laut lepas yang mendeburkan ombak.

Berumah di Langit Ingatan

Mengalir dari budi, mencelat ke lisani, mendekam di batin orang lain. Jadi, sebagaimana fisik dan rupa dipiara agar layak dipandang, bahasa pun sepatutnya dijaga dalam sikap dan rasa yang ditimbang. Kata-kata mengandung potensi apa-apa yang mungkin luput disadari si penuang. Sebaris kalimat atau frasa tertentu pun, dapat menggedor kerapuhan, menggoyahkan keteguhan, menambah keletihan. Bisa pula … Lanjutkan membaca Berumah di Langit Ingatan

Orkestra Gerimis

Andaikata kau sudah pernah melalui badai muskil, gerimis pun bukan lagi soalan yang terdaya membuatmu menggigil.Jatuhnya sebatas peringatan biasa. Bahwa langit, memang sedang ingin memamerkan daya. Atau, saat inilah kau ditempatkan di masa dinginnya yang durkarsa.Β Β  Akan tetapi, kau tahu, kaki itu masih sanggup memijak lelumpur yang mulai mencoba melicinkan jalan di bawahnya. Sekalipun tanganmu … Lanjutkan membaca Orkestra Gerimis

Hikayat dalam Cinta

Sekalipun rutin berpuisi ataupun mendongengkan cinta bertahun-tahun lamanya, sang penyair tidak otomatis dibuat kebal. Satu-satunya kesadaran yang bisa ditelannya dari kenyataan hanya: π’„π’Šπ’π’•π’‚ π’•π’‚π’Œ 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 π’”π’–π’π’ˆπ’ˆπ’–π’‰ π’ƒπ’Šπ’”π’‚ π’Œπ’Šπ’•π’‚ π’Œπ’‰π’‚π’•π’‚π’Žπ’Œπ’‚π’.Ia datang silih berganti. Dengan rupa yang berbeda. Dengan rasa yang tidak sepenuhnya sewujud antara satu dengan yang lainnya. Serta berondongan tanya yang tak kenal batasannya dan … Lanjutkan membaca Hikayat dalam Cinta

Yang Ingin Kauselamatkan

Mari, Sayang. Duduk dan ceritakan, perihal perkara yang melesakkan gundah ke dalam dadamu. Kisahkan bara, lara, jerat dan jerit yang bermalam di jiwamu sampai mengempap akal sehatmu, dan membuatmu nyalang menembus pukul tiga pagi, mengirimkanmu desak dan desir tentang mati dan kehidupan di ujung jari. Tuangkan semua, sembari kita bersama menyesap secangkir teh hangat, hingga … Lanjutkan membaca Yang Ingin Kauselamatkan