Mari, Sayang. Duduk dan ceritakan, perihal perkara yang melesakkan gundah ke dalam dadamu. Kisahkan bara, lara, jerat dan jerit yang bermalam di jiwamu sampai mengempap akal sehatmu, dan membuatmu nyalang menembus pukul tiga pagi, mengirimkanmu desak dan desir tentang mati dan kehidupan di ujung jari.
Tuangkan semua, sembari kita bersama menyesap secangkir teh hangat, hingga pasir di dalam wadahnya surut dan membalikkan diri. Biarkan malam menjadi saksi paling setia dari segala yang tak sempat terucap siang hari.
Aku akan mendengarkan tanpa menakar benar–salahnya, tanpa menuntut alasan di balik luka yang kausimpan rapat. Letakkan saja semuanya di antara kita: kenangan yang memar, pikiran yang berputar tak berhenti, dan doa-doa yang tersendat di tenggorokan karena kau terlalu letih untuk menamatkannya.
Mari kita bebaskan sunyi agar mengembang pelan bersama lirih suaramu yang serak-pasrah. Tidakkah hangat teh itu membelai halus papila, memelintirnya dengan aroma Rosela, mengendus-ngendus hatimu yang berjelaga, untuk kemudian membenamkannya larut bersama tenggakan saliva, mengajakmu bernapas sedikit lebih lega?
Sebab malam memiliki caranya sendiri untuk memeluk orang-orang yang bertahan sampai siang menjelang.
Sebab kelam memiliki caranya sendiri untuk melebur bersama pelukan hingga ketenangan datang.
Sedang, aku, Sayang, akan mengusahakan menjadi tangan yang menjaga agar kau tidak jatuh sekali lagi.
Ceritakan padaku, elegi yang lama melantunkan tembang nestapa di kedalaman batin itu, yang terpaksa menguburmu dalam keterbiasaan bersama waktu. Selama cahaya lampu ini belum padam. Selama dunia di luar jendela masih bersedia diam.
Ceritakan, apa yang sebenarnya ingin kauselamatkan, dari karamnya hari ini?
