Sekalipun rutin berpuisi ataupun mendongengkan cinta bertahun-tahun lamanya, sang penyair tidak otomatis dibuat kebal. Satu-satunya kesadaran yang bisa ditelannya dari kenyataan hanya: πππππ πππ ππππππ πππππππ ππππ ππππ πππππππππ.
Ia datang silih berganti. Dengan rupa yang berbeda. Dengan rasa yang tidak sepenuhnya sewujud antara satu dengan yang lainnya. Serta berondongan tanya yang tak kenal batasannya dan jawabannya selalu seberagam cuaca.
Semakin lama diselami, semakin nyata bahwa cinta tak bisa ditundukkan oleh umur, jam terbang, ataupun kefasihan beretorika. Pada waktunya, ia justru merobohkan segala kepandaian, mengawamkan segenap indra, memaksa insan berdiri gamang atau bertekuk telanjang di hadapannya. Dibiarkannya para manusia segala usia merangkak kepayahan, persis bocah yang kembali belajar mengeja makna.
Cinta itu seni. Cinta itu likuid. Cinta itu dinamis. Maka, ia mengandung segala unsur dan genre hikayat. Semarak warna dan rasa dan rona yang bisa dicerna hayat. Kadang bening, kadang pekat. Kadang mengendur, kadang mengerat. Kadang senang, kadang melarat. Kadang cemerlang, kadang berkarat. Kadang tenang, kadang khianat. Seringkali ia beralih tanpa mengumumkan aba-aba. Keyakinan yang kemarin kukuh, dapat mendadak runtuh hanya oleh perkara sepele semata: sekalimat ujar yang diberi nyawa; sepotong alinea yang mengembangkan jarak di antara; sebanjur garam yang menguras air mata.
Dari sana, timbullah pengertian lain. Merasa kembali ke permulaan setelah bulanan mengais, ke kehilangan setelah tahunan memiliki, ke permukaan setelah kelelahan menyelami, tidak pernah berarti kehampaan atau kesia-siaan. Sejatinya, ini hanyalah pertanda bahwa hati belum sepenuhnya mati rasa. Sejatinya, ia hanyalah simbolisme bahwa kesementaraanlah yang mengabsahkan harga.
Mungkin, di situlah letak kejujuran cinta. Tidak ia sediakan garis finish yang mutlak. Hanya sebuah lajur yang harus ditempuh, dengan berbagai macam titik singgah dan peristirahatan untuk mendulang pelajaran nan utuh.
Selama rindu masih punya tempat bernaung di bawah kanopi bernama kehilangan, selama kehilangan masih meninggalkan bekas berupa harap dan kecewa, selama harap dan kecewa belum sepenuhnya melepaskan taut, manusia akan terus menuliskan ulang arti cinta dalam hidupnya. Seolah-olah setiap perjumpaan dengannya selalu dimulai dari halaman yang pertama, dengan tangan yang, kendati kelelahan, tetap bersedia membuka untuk menadah dan menuang rasa di dalamnya. Lagi, dan lagi-lagi.
