Andaikata kau sudah pernah melalui badai muskil, gerimis pun bukan lagi soalan yang terdaya membuatmu menggigil.
Jatuhnya sebatas peringatan biasa. Bahwa langit, memang sedang ingin memamerkan daya. Atau, saat inilah kau ditempatkan di masa dinginnya yang durkarsa.
Akan tetapi, kau tahu, kaki itu masih sanggup memijak lelumpur yang mulai mencoba melicinkan jalan di bawahnya. Sekalipun tanganmu hampa dan kepalamu tak berpayungkan apa-apa. Yang kaukantungi hanya sebongkah keyakinan untuk tetap bertahan. Bibir tegar menggurat senyum dengan raut kesadaran, menghadang jarum-jarumnya yang terasa seperti gelitikan. Kauterima ajakannya untuk bermain sampai ia bosan.
Karena, tubuhmu telah mengarsipkan berbagai lintasan, dari cadas hingga kubangan. Bahumu menghafal cara-cara yang pernah dikerahkan menghalau dingin. Napasmu memahami irama-irama ketakutan yang perlu dan tak perlu kauturuti. Ketenangan yang ganjil itu terlahirnya dari perkawinan luka lama, yang telah dibuahi imun hingga bisa kaukenali bentuknya.
Tidak semua yang basah harus ditakuti. Air itu hanya ingin sekadar menyapa, lalu menguap bersama-sama udara. Barangkali pula semenjelma rerintik yang semata menerpa raga, lalu lenyap tak bersisa.
Lantas, waktu berputar dan kau tersadar …, Oh! Benar! Gerimis itu cuma singgah sebentar. Setelahnya, berhengkanganlah ia. Seperti hal-hal lain yang tak pernah ditakdirkan untuk menetap selamanya. Sebagaimana apa-apa yang pernah terasa akhir dari segalanya, tetapi berujung larut jua dalam adukan masa.
Mungkin hanya basahnya Bumi, aroma tanah direkah petrikor, dan titik-titik air yang terperangkap di lipatan baju dan rambutmulah yang menjadi jejak bahwa gerimis itu pernah menjatuhimu.
Namun, rembesan air itu tak berkemampuan mengubahmu menjadi sosok berbeda. Keberanian untuk tetap berjalan saat langit runtuh di atas kepala lah yang menjadikanmu beranjak.
Gerimis-gerimis itu membubarkan diri dengan caranya sendiri. Entah berhenti, entah pergi, entah mati. Sedang, engkau, tanpa perlu menjalankan prosesi atau ritual apa-apa, selain melanjutkan langkahmu yang tersela, bukan lagi seseorang yang gentar akan suara dan tangisan angkasa. Kendati kau tetap mendengarkannya, sebagai bagian dari simfoni perjalanan Semesta.
