Mengalir dari budi, mencelat ke lisani, mendekam di batin orang lain. Jadi, sebagaimana fisik dan rupa dipiara agar layak dipandang, bahasa pun sepatutnya dijaga dalam sikap dan rasa yang ditimbang.
Kata-kata mengandung potensi apa-apa yang mungkin luput disadari si penuang. Sebaris kalimat atau frasa tertentu pun, dapat menggedor kerapuhan, menggoyahkan keteguhan, menambah keletihan. Bisa pula dibentuknya cara kau merasa dihargai, atau merasa diringankan dari keberadaan. Nada yang ambang, pilihan kata yang tak ditimbang, dan seloroh tanpa dilintang, sanggup meninggalkan bekas yang tak mudah dibenahi. Luka yang jarang menuntut penjelasan. Luka yang sulit disembuhkan.
Oleh sebab itu, berbahasa memerlukan kebijaksanaan. Tak semata soal menang. Atau, senang. Kadangkala, bertutur ialah perkara tenang. Tenang bagi dua kubu yang digalang. Ada saatnya apa yang menggelantung di lidah sepatutnya dilisankan, dan ada pula waktunya sebaiknya ia disimpan. Di antara manusia-manusia, entah garib atau karib, tetap membentang batas-batas yang seharusnya tak dilampaui. Etika memberi arah, estetika memberi wujud. Keduanya berjalan beriringan dalam menjaga martabat tutur. Dari sanalah bahasa menemukan keluhurannya. Sebagai penanda kesadaran, cermin watak, juga jejak yang ditinggalkan dengan pertanggung jawaban.
Sebab, sekali lagi … setiap kata akan berumah di langit ingatan. Membayang di sana, menua bersama sang kala, sesekali kembali mengetuk-ngetuk pelupuk, dan benak, dan gendang telinga, guna menjenguk si empunya. Maka, kehati-hatian menjadi satu-satunya laku yang layak dipilih. Sebelum kata kita torehkan luka berliku, yang muasalnya sekadar rangkaian asal lepas tanpa diwarnai kebeningan budi.
