Berkelakanlah, Jiwa … Berkekalanlah

Kala hati terlampau layu pasca-tarian kenelangsaan, mungkinkah kau terlupa bahwa sekuntum harapan masih dapat bertunas pada tanah yang retak di peraduan. Saat muram terlalu jauh merayapi batin yang kehilangan, lilin-lilin mungil yang dinyalakan alam dari doa ibu yang kudus di masa silam pun bisa saja ditenggelamkan dari kolam ingatan. Ada masanya kau biarkan gelisah menguasai … Lanjutkan membaca Berkelakanlah, Jiwa … Berkekalanlah

Air Mata Penyair

ใ…คใ…ค๐‘ท๐‘จ๐‘น๐‘จ ๐‘ท๐‘ฌ๐‘ต๐’€๐‘จ๐‘ฐ๐‘น ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฐ๐‘บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair

Engkau Kumerdekakan

๐‘บ๐‘จ๐‘ด๐‘ท๐‘จ๐‘ฐ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘น๐‘ฐ๐‘ต, ๐‘ฌ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ผ ๐‘ด๐‘จ๐‘บ๐‘ฐ๐‘ฏ berdiri di ambang kepalaku. Warna kulitmu tak bisa kutentukan: kadang merah, kadang biru. Mungkin, pandangan ini kertas lakmus yang bingung mendefinisikanmu sebagai asam ataukah basa. Di lain waktu, kau bening. Layaknya gumam yang belum atau malah tidak akan sempat mewujud sebagai kata. Entah apakah kau pernah benar-benar hidup, atau hanya kebocoran … Lanjutkan membaca Engkau Kumerdekakan

Ronggamu Memamah Isi Semesta

๐‘น๐‘ถ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฎ๐‘จ๐‘ด๐‘ผ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘ด๐‘จ๐‘ฏ ๐‘ฐ๐‘บ๐‘ฐ Semesta. Engkau menelan tanpa perlu lidah, mereguk walau tak berbibir, menenggak tanpa peristaltik. Segenap materi yang berkelindan di udara: serpihan luka, debu-debu pengelana, serapah yang dilontarkan saliva, doa-doa merana di penghujung asa, napas yang terputus di ambang rasa ... kauserap ke dalammu pula. Engkaulah gravitasi yang mengisap segala. Meniadakan perbedaan yang lumrah … Lanjutkan membaca Ronggamu Memamah Isi Semesta

Takut Mati

๐‘ฒ๐‘ถ๐‘ป๐‘จ ๐‘ฐ๐‘ต๐‘ฐ ๐‘น๐‘จ๐‘บ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘ถ๐‘ณ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘ผ๐‘น. Bahkan sewaktu lampu-lampu padam serentak, bayangannya masih bergerak sendiri. Merayapi dinding-dinding menjulang. Menempel di atap, menjelma orkestra bersama decak cecak dan kerik jangkrik. Jalanan dipenuhi kursi-kursi tanpa pemilik. Beberapanya berdiri tegak di atas genangan air. Sebagian terbalik dengan kaki menuding langit. Tidak ada yang mau mendudukinya. Tidak pula aku. Kesannya, … Lanjutkan membaca Takut Mati

Sombra

SEMUA ORANG YANG MENGENALNYA sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.

Munafik

Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. โ€œMenurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya ..., itu munafik, tidak?โ€