Kala hati terlampau layu pasca-tarian kenelangsaan, mungkinkah kau terlupa bahwa sekuntum harapan masih dapat bertunas pada tanah yang retak di peraduan. Saat muram terlalu jauh merayapi batin yang kehilangan, lilin-lilin mungil yang dinyalakan alam dari doa ibu yang kudus di masa silam pun bisa saja ditenggelamkan dari kolam ingatan. Ada masanya kau biarkan gelisah menguasai … Lanjutkan membaca Berkelakanlah, Jiwa … Berkekalanlah
Air Mata Penyair
ใ คใ ค๐ท๐จ๐น๐จ ๐ท๐ฌ๐ต๐๐จ๐ฐ๐น ๐ป๐ฐ๐ซ๐จ๐ฒ ๐ฏ๐จ๐ต๐๐จ ๐ด๐ฌ๐ต๐จ๐ต๐ฎ๐ฐ๐บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair
Engkau Kumerdekakan
๐บ๐จ๐ด๐ท๐จ๐ฐ ๐ฒ๐ฌ๐ด๐จ๐น๐ฐ๐ต, ๐ฌ๐ต๐ฎ๐ฒ๐จ๐ผ ๐ด๐จ๐บ๐ฐ๐ฏ berdiri di ambang kepalaku. Warna kulitmu tak bisa kutentukan: kadang merah, kadang biru. Mungkin, pandangan ini kertas lakmus yang bingung mendefinisikanmu sebagai asam ataukah basa. Di lain waktu, kau bening. Layaknya gumam yang belum atau malah tidak akan sempat mewujud sebagai kata. Entah apakah kau pernah benar-benar hidup, atau hanya kebocoran … Lanjutkan membaca Engkau Kumerdekakan
Ronggamu Memamah Isi Semesta
๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ฎ๐จ๐ด๐ผ ๐ด๐ฌ๐ด๐จ๐ด๐จ๐ฏ ๐ฐ๐บ๐ฐ Semesta. Engkau menelan tanpa perlu lidah, mereguk walau tak berbibir, menenggak tanpa peristaltik. Segenap materi yang berkelindan di udara: serpihan luka, debu-debu pengelana, serapah yang dilontarkan saliva, doa-doa merana di penghujung asa, napas yang terputus di ambang rasa ... kauserap ke dalammu pula. Engkaulah gravitasi yang mengisap segala. Meniadakan perbedaan yang lumrah … Lanjutkan membaca Ronggamu Memamah Isi Semesta
Takut Mati
๐ฒ๐ถ๐ป๐จ ๐ฐ๐ต๐ฐ ๐น๐จ๐บ๐จ๐ต๐๐จ ๐ด๐ฌ๐ต๐ถ๐ณ๐จ๐ฒ ๐ป๐ฐ๐ซ๐ผ๐น. Bahkan sewaktu lampu-lampu padam serentak, bayangannya masih bergerak sendiri. Merayapi dinding-dinding menjulang. Menempel di atap, menjelma orkestra bersama decak cecak dan kerik jangkrik. Jalanan dipenuhi kursi-kursi tanpa pemilik. Beberapanya berdiri tegak di atas genangan air. Sebagian terbalik dengan kaki menuding langit. Tidak ada yang mau mendudukinya. Tidak pula aku. Kesannya, … Lanjutkan membaca Takut Mati
Evanesca
REFLEKSI DI GELAS KACA memantulkan realita yang tak ia suka. Wajahnya terlalu biasa-biasa jika disandingkan dengan lautan manusia yang memesona. Ini takkan cukup untuk bisa membuatnya bersanding dengan Sang Pangeran.
Kintsugi
RAKA DAN NINDHITA IALAH dua gunung berapi yang saling hadang. Berdiri di atas landasan magma yang sama. Setiap langkah yang terkayuh seumpama gempa kecil nan mengakselerasi kehancuran.
Malheur
SETELAH DUA JAM NON-STOP dipaksa bergerak, akhirnya aku diperkenankan beristirahat juga. Melelahkan sekali menjadi alas pergumulan panjang dua insan ini.
Sombra
SEMUA ORANG YANG MENGENALNYA sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.
Munafik
Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. โMenurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya ..., itu munafik, tidak?โ

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.