Engkau Kumerdekakan



๐‘บ๐‘จ๐‘ด๐‘ท๐‘จ๐‘ฐ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘น๐‘ฐ๐‘ต, ๐‘ฌ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ผ ๐‘ด๐‘จ๐‘บ๐‘ฐ๐‘ฏ berdiri di ambang kepalaku. Warna kulitmu tak bisa kutentukan: kadang merah, kadang biru. Mungkin, pandangan ini kertas lakmus yang bingung mendefinisikanmu sebagai asam ataukah basa.

Di lain waktu, kau bening. Layaknya gumam yang belum atau malah tidak akan sempat mewujud sebagai kata. Entah apakah kau pernah benar-benar hidup, atau hanya kebocoran dari jiwaku sendiri yang terlalu lama menampung bunyi. Bunyi yang sunyi. Sunyi yang bernyanyi.

Kau menubuh di situ. Di dalamku. Menggelegak. Memberontak. Menggertak. Biar terserak. Biar berkerak. Setiap kali aku ingin melelapkan diri, kau mengintip dari balik kelopak. Lantas berisik, berbisik serak: ๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘›, ๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘‘๐‘ข๐‘™๐‘ข, ๐‘Ž๐‘˜๐‘ข ๐‘๐‘’๐‘™๐‘ข๐‘š ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘ข๐‘Ž๐‘˜.

Dan, kubiarkan kau memakan malamku. Sedikit, demi sedikit. Sampai yang tersisa hanya detak yang mendobrak laiknya gempa, waktu yang terasa sisa satu dua, dan dunia yang terasa sia-sia.

Hari ini, berpijaklah aku, di antara kita: aku dan kau, yang sempat saling menubruk dalam satu dada.

Aku menatapmu, tanpa takut. Kau menatapku balik, tanpa bentuk.

Dahulu, kau leluasa berpura-pura jadi segalanya. Jadi cinta, jadi murka, jadi luka, jadi biara, jadi penjara, surga jua neraka. Kaupinjam wajah teror kehilangan, lantas mengerati jantungku persis janji yang membusuk tanpa pernah terwujud. Kini, lisanku bisa memuntahkan definisi bagimu. Sekadar keberadaan yang menolak mati, tetapi juga tak hidup sepenuhnya di sini.

Engkau kumerdekakan dari segala kekang.

Maka, pergi. Pergilah. Cari segenap siapa yang membuatmu berpuas. Temukan segenap apa yang membasuh seantero dahaga. Jumpai alasan di balik mengapa yang kaudengungkan.

Aku memerdekakan diriku dari segala yang lekang.

Maka, aku berdiri mengadang angin. Matahari di sisi kiri, dan rembulan di kanan. Tak perlu kucari siapa yang bisa membuatku berpuas. Tak perlu kutemukan segenap apa yang membasuh dahaga. Tak perlu aku diperjumpakan alasan. Sebab aku tak pernah tak berpuas. Aku tak pernah mendahaga. Dan, aku, sudah tahu alasan di balik semua mengapa.

Segala yang dulu kusebut โ€˜kenanganโ€™ kini hanya debu yang menolak disebut mati. Aku biarkan ia beterbangan, menyentuhku seperlunya saja. Karena tak semua yang hilang perlu dimakamkan; sebagian cukup dibiarkan larut di udara, agar bisa kembali sebagai musim yang lain.

Maka, hari ini, kususur lajur di antara cahaya dan gulita, untuk pulang.

Mungkin, begini caranya berdamai: tidak menutup pintu, tak pula sepenuhnya membuka. Hanya menyingkap tirai agar cahaya bisa masuk, dengan masih kupiara bayang-bayang untuk memeluk.

Engkau kumerdekakan dari segala kekang. Aku memerdekakan diriku dari segala yang lekang. Dan, aku, akhirnya bebas dari kebutuhan untuk mendekap erat yang berkenan hilang.

Tinggalkan komentar