𝑲𝑶𝑻𝑨 𝑰𝑵𝑰 𝑹𝑨𝑺𝑨𝑵𝒀𝑨 𝑴𝑬𝑵𝑶𝑳𝑨𝑲 𝑻𝑰𝑫𝑼𝑹. Bahkan sewaktu lampu-lampu padam serentak, bayangannya masih bergerak sendiri. Merayapi dinding-dinding menjulang. Menempel di atap, menjelma orkestra bersama decak cecak dan kerik jangkrik.
Jalanan dipenuhi kursi-kursi tanpa pemilik. Beberapanya berdiri tegak di atas genangan air. Sebagian terbalik dengan kaki menuding langit. Tidak ada yang mau mendudukinya. Tidak pula aku. Kesannya, siapa pun yang terlalu lama duduk, akan terjebak di kursi itu selamanya. Menjadi kayu tambahan. Menjadi paku. Menjadi deritnya. Menjadi derita.
Aku melangkah—atau, lebih tepatnya, menyeret langkah—melalui gang-gang yang sempit yang berbau gorong-gorong. Setiap gang selalu memperjumpakanku pada sepotong pintu. Namun, setiap kali pintu-pintu itu kubuka, aku malah diarahkan pada gang sempit yang menghadapkanku pada pintu lain. Seakan kota ini terdiri dari seribu lorong, seribu pintu, yang semuanya saling berulang.
Di saat aku telah menyadari polanya hingga larut dalam kepasrahan monoton itu, pada sekali waktu kukuak lagi salah satunya, aku bertemu sesuatu yang berbeda.
Ruangan dengan dinding dikerubuti puluhan jam analog. Jarum-jarum jam itu berputar mundur. Sesaat kemudian, maju. Lalu, ia berhenti berdetak sama sekali. Sebelum kembali menyeret detaknya lagi. Detaknya yang menyerupai tarikan napas, berat dan panjang, bagai seseorang sudah terlalu lelah mencoba segala cara untuk bertahan hidup.
Pada salah satu sudut ruangan, menggeletak seunit meja panjang. Di atasnya, ada amplop-amplop kuno yang bertumpukan. Warna kertasnya memudar. Tulisannya luntur. Lapisan lilinnya buyar. Akan tetapi, setiap masing-masingnya mengandung sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang seolah berusaha mencoba mengepak-ngepak keluar dari sana.
Ketika kutilik apa yang tengah berupaya melakukan tindakan eskapis itu, kutemukan bahwa mereka merupakan serpihan sayap-sayap kecil. Keliman salah satu amplop pun kubuka. Mengepak keluar seekor serangga kertas, terbang meliuk, sebelum terbatuk tanpa suara di udara, lalu menukik jatuh ke bumi, dan merepih menjadi abu.
Kupandang tumpukan abu selagi berjongkok. Entah mengapa, sebagian kecil dari rongga memoriku terbangkitkan oleh sensasi familier. Agaknya, pernah kutahu kepada siapa amplop-amplop ini ditujukan, tetapi ingatanku menggelincir selicin air di permukaan berminyak.
Mataku memejam dalam upaya merogoh dan menerka nama emosi. Hingga bisa kuyakini, ia bekas dari apa-apa yang pernah menyalakan lampunya di dalam sana. Sisa-sisa buncahan antusiasme. Maka ingatanku pun mulai merekah secerah pagi, bahwa pernah ada momen kutunggui sesuatu yang dari amplop-amplop itu, walau penantianku berakhir dengan sesapan hampa.
Sekepul desah memfinalkan putusan. Aku bangkit dan meninggalkan ruangan. Lagi-lagi, pintu yang terbuka menggiringku masuk ke … oh, ternyata keluar?
Sebab, di hadapanku kini, terbentang lapangan luas tanpa batas.
Hanya saja, langitnya kelewat rendah. Harus kutundukkan kepala kala melewatinya, sebab rasanya, awan-awan yang menggelantung seakan-akan menantang untuk ditubruki ubun-ubun.
Di tengah lapangan itu, mencuat sebilah cermin berbingkai emas. Tidak ia pantulkan bayangan siapa pun. Tidak pula cahaya matahari. Kecuali refleksi cermin itu sendiri, berlipat-lipat. Seakan dunia ini, tak memiliki isi selain dirinya sendiri.
Tidak ada pula … pantulanku.
Ingatan membawaku pada lembar novel bergenre horor yang kubaca di awal-awal kedatangan. Bagaimana ketiadaan refleksi diri pada cermin merupakan pertanda mendekati kematian. Lututku lunglai, jatuh menikam tanah yang terasa basah berlumpur. Sekalipun selalu bilang kehidupan ialah perkara menyesakkan; sekalipun aku suka menuliskan soal kematian sebagai hal yang paling dekat dengan jiwa makhluk bernyawa; sekalipun seringkali pikiran ini dilandasi gagasan intrusif yang suicidal, ada satu fakta yang tak bisa kumungkiri. Aku, tetap takut, untuk mati.
