Air Mata Penyair

ใ…คใ…ค

๐‘ท๐‘จ๐‘น๐‘จ ๐‘ท๐‘ฌ๐‘ต๐’€๐‘จ๐‘ฐ๐‘น ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฐ๐‘บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata.

Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu dari pertempuran batin yang tak berbunyi; antara duka yang riuh bernyanyi, juga kata yang rikuh berjuang menembusi sunyi.

Pada lorong-lorong imaji, setiap aksara yang tertulis itu ditiupi Hidup, menampungi denyut jantung mereka sendiri. Napas segala rasa mengukir kenang, selayaknya bayangan yang pantang menghilang. Sebab, di situlah keajaiban bertandang: dari kerumitan rasa sakit, hingga mencuatkan sealiran darah dari luka yang rekah. Tatkala alur alirannya mulai bisa dipahami, akhirnya ia menemukan jalannya menuju keindahan. Dari yang semula tajam, lantas sanggup membangkitkan nyanyian malam. Dari yang awalnya tercabik-cabik, terwujudlah kembang gula susatra nan cantik dan ciamik.

Dunia memang kerap menuntut kesempurnaan, Ananda. Rekahan senyum abadi, seolah kepribadian manusia ialah matahari. Akan tetapi, pada penyair jua yang paham, bahwa tak apa-apa andai sang mentari kalah oleh selubung mendung dan gemuruh guntur. Kesedihan, biarlah dituang dalam bahasa nan jujur. Tiada yang patut ditutupi. Tak ada yang perlu bersembunyi. Melalui bahasa itulah, mereka dongengkan telaga, di mana setiap  tangis menjumpai muaranya, untuk mengakui luka yang membanjur. 

Ada pula, Ananda, malam-malam ketika pena itu terasa berat untuk diangkat. Tatkala kata-kata yang hendak dimuntahkan malah tersangkut di tenggorok, membuat tercekat. Ketika tinta tampak terlalu rembes kala ditumpahkan ke permukaan kertas kusut. Di malam-malam itu, mungkin, penyair ‘kan terlampau larut dalam upaya menerawangi dinding yang penuh gerak-gerik bayangan; kilas-kilas balik adegan, percakapan-percakapan nan tak dituturkan, atau gambaran masa depan yang takkan sanggup terwujud.

Usai pergelutan itu, para penyair ‘kan tersenyum di tengah derai air mata. Seulas senyum yang mengawinkan pahit dan manis, bagai rasa pertama hujan setelah menahun Bumi dikerontangkan. Ada kehilangan … dan ada kepulangan. Sebab, mereka membuktikan percaya. Kata-kata itu datang. Kendati lambat. Kendati mesti terseret oleh arus ingatan yang menyakitkan. Sampai ketika akhirnya prosa-prosa itu dimuntahkan, batin mereka bersorak dalam gelenyar kemenangan kecil atas kekosongan.

Barangkali, duka memang tak sepenuhnya hengkang. Akan tetapi, telah ia jumpai bentuknya sendiri; wujud yang bisa disentuh, diterawangi kembali selepas berkeluh, untuk diterima dengan utuh.

Maka, Para Penyair tidak hanya menangis, Ananda. Mereka ialah penjelajah emosi dalam setiap baris, yang memelihara segala rasa agar tetap manusiawi, indrawi, dan … abadi.

Tinggalkan komentar